Tentang Hari Raya Galungan dan Mitology Tirta Empul

Galungan 2020 - dok. IG @wayan_lamborghini
Hari Raya Galungan dirayakan masyarakat Hindu Bali setiap 210 hari dan akan jatuh pada tanggal 16 September 2020. Sebelumnya tanggal 19 Februari 2020 masyarakat Hindu Bali juga merayakannya. Tapi koq gak ada libur Nasionalnya ya... Padahal Galungan dan Kuningan katanya hari besar umat Hindu? 

Perhitungan peringatan Hari Raya Galungan (dan Kuningan) memakai kalender Saka berdasarkan Wuku (di Bali ada 30 Wuku) atau sistem penanggalan di Bali, yang 1 Wuku itu lamanya tujuh hari. Sehingga jika 30 Wuku x 7 Hari = 210 hari dan kemudian dikonversi dalam penanggalan masehi maka 210 hari dibagi 30 hari hasilnya 7 bulan. Jadi perayaan hari raya Galungan dan Kuningan itu jatuhnya setiap 7 bulan menurut kalender Masehi.

Hari Raya Galungan bermakna perayaan kemenangan kebajikan (dharma) melawan kebatilan (adharma) 

Konon hari raya Galungan adalah rangkaian kisah dari Mitologi Hindu Bali yang menceritakan tentang seorang keturunan raksasa di daerah Blingkang (Sebelah Utara Danau Batur), anak dari Dewi Danu Batur yang bernama Mayadenawa. Karena ia adalah raja sakti yang dapat mengubah diri menjadi bentuk apapun yang diinginkannya maka Raja Mayadenawa ini sangat ditakuti. 

Banyak daerah sudah berhasil dia taklukan seperti Makasar, Sumbawa, Bugis, Blambangan dan Lombok. Hal ini Raja Mayadenawa ini kemudian menjadi sangat sombong dan angkuh. Raja Mayadenawa lalu ingin disembah sebagai Dewa oleh masyarakat Hindu Bali dan melarang rakyat Bali untuk datang ke Pura dan memuja Dewata (Tuhan) yang sesungguhnya. 

Hal itu lama kelamaan membuat dunia menjadi tidak seimbang. Tanaman penduduk rusak, wabah penyakit ada dimana-mana dan rakyat jadi sengsara. Akhirnya para dewa memutuskan untuk bertindak dan diutuslah Bhatara Indra beserta pasukannya ke dunia untuk menghancurkan kejahatan Raja Mayadenawa.

Bhatara Indra bersama Patih Citranggada, Citrasena dan Jayanta mengatur siasat membagi tugas pasukannya untuk melawan Mayadenawa. Disertai suara kendang dan gong yg bergemuruh, bendera panji-panji dikibarkan, bala tentara Bhatara Indra ini bergerak menuju Desa Bendahulu.
Pertempuran yang terjadi antara pasukan Bhatara Indra dan pasukan Mayadenawa sangat sengit.

Perang berlangsung entah berapa lama, hingga akhirnya pasukan Bhatara Indra berhasil mendesak pasukan Mayadenawa. Melihat pasukannya terdesak, Mayadenawa sangat marah dan dengan suara yang menggelegar Mayadenawa menantang Bhatara Indra untuk perang tanding. 

Karena terus terdesak akhirnya Mayadenawa melarikan diri ke utara. Berkat kesaktiannya raja Mayadenawa mampu berubah-ubah wujud dalam pelariannya. Bahkan setelah dapat mengelabui pasukan Bhatara Indra, dengan cara berlari dengan telapak kaki miring. Daerah dimana Mayadenawa terlihat berlari miring tersebut kemudian disebut Tampak Siring. 

Dalam pelariannya pula Mayadenawa berhasil membuat sebuah tirta mala. Di sebelah selatan desa Manukmaya di daerah yang dulu bernama Alas Pagulingan. Mata air yg beracun tersebut kemudian mengakibatkan seluruh pasukan Bhatara Indra mati setelah meminumnya. 

Mengetahui seluruh pasukannya keracunan, Bhatara Indra lalu menancapkan kerisnya di tanah lalu muncul mata air yang bisa menghidupkan lagi seluruh pasukannya. Mata air yang menyembuhkan ini kemudian dinamakan Tirta Empul. 
Mata Air Tirta Empul - dok. Pribadi
Di desa Manukmaya, raja Mayadenawa berubah wujud lagi menjadi manuk (ayam jantan). Sebelum sempat terbang, manuk ini berhasil di panah oleh Bhatara Indra dan matilah raja Mayadenawa. 
Konon darah Mayadenawa dari mulutnya mengalir menjadi aliran air Petanu. Air sungai itu tidak boleh diminum, tidak boleh digunakan untuk mandi atau cuci muka karena air itu dipercaya bersumber dari darah Raksasa. 

Sedangkan air dari mata air Tirta Empul yang bisa menghidupkan pasukan Bhatara Indra, dipercaya berkhasiat.
Mandi di Tirta Empul - dok. Pribadi
Jika kaum Brahmana dan Ksatria mandi dan atau cuci muka di sini, wajah dan tubuhnya akan segar serta terhindar dari dosa serta malapetaka. Jika kaum Wesya dan Sudra yang berdosa mau datang ke Tirta Empul ini, pasti selamat sedangkan yang berbudi luhur akan mendapatkan keberuntungan.
Mereka yang datang diharapkan menghaturkan sesaji diiringi puja mantra memuja Dewa Siwa. 

Hari Raya Galungan memiliki nilai filosofis dalam perayaannya. Rangkaian perayaan Galubgan harus dimaknai sebagai berikut:
  • Tumpek Wariga atau disebut juga Tumpek Bubuh, dimana masyarakat Hindu Bali memuliakan tumbuh-tumbuhan yang berperan besar terhadap kehidupan manusia dan alam semesta. 
  • Sugihan Jawa, berasal dari 2 kata Sugi dan Jawa. Sugi berarti bersih dan suci, sedang Jawa berasal dari kata Jaba yang artinya luar, sehingga Sugihan Jawa diartikan sebagai hari pembersihan atau penyucian di luar diri manusia yaitu alam semesta (Bhuana Agung). Ini disimbolkan dengan pembersihan merajan dan rumah. 
  • Sugihan Bali, kata Bali disini berarti Wali atau kedalam. Sugihan Bali bermakna penyucian atau pembersihan diri sendiri (Bhuana Alit). Penyucian ini dilakukan dengan mandi dan memohon tirta suci sebagai simbolis penyucian jasmani rohani.
  • Panyekeban, berasal dari kata Nyekeb yang berarti merenung atau mengekang diri sehingga pada hari Panyekeban ini umat Hindu Bali belajar untuk mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan agama. 
  • Penyajan, berasal dari kata Saja yang berarti sungguh-sungguh dan bermakna filosofis memantapkan diri untuk merayakan hari raya Galungan.
  • Penampahan, sehari sebelum Galungan. Penampahan atau Penampan berasal dari kata Nampa yang berarti menyambut....menyambut hari Galungan. Pada Penampan ditandai dengan pembuatan Penjor atau janur melengkung berisikan canang atau persembahan. Selain penjor umat Hindu Bali juga menyembelih babi untuk pelengkap upacara. Penyembelihan babi ini juga bermakna simbolis membunuh semua nafsu kebinatangan dalam diri manusia. 
  • Galungan, dirayakan pada Rabu Kliwon Dungulan. Ini adalah hari Kemenangan dimana upacara dilakukan dari pagi hari, dimulai dari persembahyangan di rumah masing-masing hingga ke Pura yang ada di lingkungan tempat tinggal. Pada hari raya Galungan, umat Hindu Bali harus semakin melihat ke dalam diri sendiri, introspeksi diri agar kebaikan selalu bisa dilakukannya selama hidup. 
  • Umanis Galungan, adalah sehari setelah Galungan yang dimanfaatkan untuk saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi. Ini merupakan perwujudan langkah baru yang lebih baik. Jika antar saudara memiliki masalah sebelumnya, maka Umanis Galungan ini bisa dimanfaatkan sebagai momentum saling memaafkan. 
Demikian kira-kira filosofi dan cerita tentang hari raya Galungan, yang saya dapatkan dari berbagai sumber. 

Rahajeng nyanggra rahina jagat Galungan lan Kuningan semeton titiang semuanya. 
Dumogi Ida Sang Hyang Widhi ngincenin kerahayuan

🙏🙏




Load disqus comments

0 Comments