'TILIK', Tentang Budaya Rasan-Rasan Yang Menjadi Cerminan Kebiasaan Masyarakat Kekinian

Beberapa hari kemarin ini Tagar #BuTejo sempat menjadi trending topic di jagat per-Twitteran. Siapa sih Bu Tejo itu sehingga tiba-tiba bisa cetar membahana ? Buat yang belum tau tentang Bu Tejo ini, nanti bisa di browsing di Youtube.

Saya sendiri baru nonton film-nya kemarin. Sebuah Film pendek yang berjudul (dalam bahasa Jawa) 'Tilik' yang jika diartikan ke Bahasa Indonesia akan berarti Membezuk atau Menjenguk. Yang di jenguk biasanya sih bisa teman, kerabat, sanak saudara atau tetangga yang sedang sakit di rumah sakit.

Tilik ini adalah Budaya yang biasa dilakukan oleh masyarakat (Jawa, saya tidak tahu apakah selain di Jawa apa ada budaya seperti ini). Dulu jaman sebelum Covid-19, mendatangi rumah sakit beramai-ramai menggunakan mobil bak terbuka, truk atau angkutan pedesaan atau minibus yang disewa secara patungan saweran adalah sebuah hal yang lumrah...umum...biasa. Serombongan pembezuk (orang-orang yang mau menjenguk) berjumlah antara 20 -30 orang...banyak deh pokoknya. Makanya pas begitu ada Covid-19 dengan segala protokol kesehatan yang ketat seringkali pihak rumah sakit dibuat kerepotan membendung laju rombongan Tilik-ers. Ya biasalah orang-orang kita (baca:Indonesia) dengan kata-kata saktinya "Biasanya gak begini...koq sekarang jadi begini..." kemudian berusaha memprotes kebijakan pembatasan atau bahkan meniadakan kesempatan pengunjung Tilik-ers ini.

Tapi ternyata bukan budaya 'Tilik' yang menjadi roh cerita dalam film pendek Produksi Ravacana Film ini. Kalo secara teori Clickbait, judul film ini tidak akan mengundang orang untuk penasaran lalu mengklik tautan film ini. Film yang pembuatannya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogjakarta ini, dibuat tahun 2018 tapi entah kenapa baru Premier tayang (di Youtube) pas 17 Agustus 2020 kemarin. Mungkin karena diikutkan di banyak festival film pendek yang mensyaratkan film-nya tidak boleh ditayangkan secara publik dulu. Dan sampai saat ini views-nya sudah mencapai 5juta views, mungkin akan terus bertambah dengan semakin banyaknya yang me-review dan bertambah populernya #BuTejo nanti.

Dari sejak Premier-nya tayang di Youtube, puluhan testimoni teman-teman saya di dinding Facebook membuat rasa penasaran saya jadi menggebu-gebu, apa yang istimewa dengan film ini sampai-sampai film ini menjadi bahan pergunjingan dan mendapat review yang sedemikian nge-hitz.

Ternyata cerita yang mau diangkat sebagai nafas dalam film pendek ini adalah tentang praktik 'rasan-rasan'....bergunjing....ghibah dan tentang bagaimana orang lain menilai seseorang yang dikenalnya dari potongan-potongan informasi. Informasi-informasi dan berita yang bisa diambil dari berbagai sumber, termasuk dari status di sosial media yang tentu saja...sepotong-sepotong yang kemudian akan menjadi praduga-praduga...akhirnya menjadi penilaian yang 'sak karepe dewe'.

Yang menarik dalam film 'Tilik' ini adalah akting para pemainnya yang benar-benar tak tampak seperti akting. Kalo dari cerita behind the scene-nya terungkap bahwa ya memang hanya beberapa saja pemeran tokoh-tokoh di film ini, yang sudah pernah punya pengalaman 'main film'. Seperti misalnya pemeran tokoh sentral, bu Tejo yang gatheli, lalu pemeran Yu Ning yang bermain sebagai protagonisnya, terus pemeran pembantu seperti Yu Sam dan bu Tri. Sementara ibu-ibu lain yang ada di dalam cerita itu adalah benar-benar ibu-ibu yang awam dalam hal perfilm'an atau dunia theater. Mungkin ini yang kemudian alur rasan-rasan-nya jadi seperti natural dipertontonkan.

Rasan-rasan itu seperti layaknya ketika seseorang berkumpul dengan temannya, biasanya akan ngomongin teman yang lain. Dalam film ini, seseorang yang bernama Dian yang menjadi bahan pergunjingan. Dari awal mulai obrolan diatas bak truk itu, bu Tejo membuka cerita per-ghibah-annya dengan asumsi dan praduga. Asumsi bu Tejo didasari dari sumber berita di internet (baca: medsos Facebook) dan kabar burung yang kemudian menjadi kesimpulan bu Tejo tentang sosok Dian. Bu Tejo men-stigma Dian sebagai wanita yang tidak benar, yang sering 'jalan' dengan om-om di mall atau mungkin arahnya menuduh Dian menjadi sosok Pelakor. Gaya bu Tejo yang mencoba 'golek bolo' untuk menjustifikasi pendapatnya inilah yang kemudian menjadi daya tarik dan membuat gregetan para penonton film ini.


Padahal bu Tejo inilah yang amat sangat dekat dengan penggambaran keseharian kita...saya...mungkin juga sampeyan. Betapa mudahnya kita menilai orang lain dari sisi luar yang kelihatan lalu mereka-reka dan membangun opini seolah-olah kita yang paling tau segala hal tentang orang yang kita nilai.
Ditambah lagi jika orang yang kita nilai itu cukup aktif di medsos, entah karena memang pengin curhat secara publik atau sekedar pamer foto-foto kesehariannya. Kalo kata bu Tejo 'internet kuwi gaweyane wong pinter lho...(internet itu buatan orang pinter lho)' tapi yang sering dilupakan adalah para pengguna internet itu belum tentu semua pinter (baca: bijak bermedsos).

Kita seringkali mengejawantahkan bu Tejo dalam keseharian kita yang suka pamer 'kepunyaan' (walo cuma sedikit) biar tetep eksis. Atau yang seringkali mencoba mempengaruhi opini dan penilaian orang lain dengan cara-cara yang 'santun' dengan memberikan materi beramplop terpisah yang ujung-ujungnya (mungkin) ada pamrih di balik amplop itu.

Tapi sejurus kemudian, kita bisa menjadi seperti Yu Ning yang maju pasang badan dan ngotot dengan argumennya untuk membela teman yang sedang dirasani (karena merasa tertonjok dan tersindir dengan gaya bu Tejo ini). Atau seringkali kita tidak mau tampak seperti bu Tejo karena kita mungkin merasa seperti Dian yang sedang berusaha menyembunyikan kehidupan dan satu rahasia pribadi dari penilaian orang lain.

Ya walopun ada suara-suara dan cuitan-cuitan yang mungkin mengkritik film ini dan menyebut kalo tidak ada nilai edukatif dalam film pendek ini....menurut saya, film ini masih jauh lebih edukatif dan lebih baik dari sinetron-sinetron yang tayang di TV Swata yang mayoritas berbau-bau Azab dan Sengsara serta rebutan harta.

Setidaknya....ya mbok jadi orang itu yang Solutip gitu lho.
Jangan cuma nyinyir dan penuh prasangka negatif
Wis lungguho sing penak...nyimak lan tenangno pikirmu....


Load disqus comments

0 Comments