Semua Orang Bisa (Mencoba) Menyeduh Kopi Sendiri - Konsep Open Bar di Coffeebroker | Sebuah Cerita Perjalanan Ngopi


Kopi itu identik dengan rasa pahit. Makanya untuk sebagian besar penikmat kopi Indonesia pada umumnya (terutama penggemar kopi mix-mix), untuk secangkir kopi yang (menurut mereka) enak harus manis atau harus ditambah gula. Itulah kemudian yang jadi tantangan buat kita sebagai penyaji kopi atau yang punya kedai kopi, begitu cerita kang Asep membuka obrolan kami semalam.

Sebetulnya, ada bermacam-macam segmen penikmat kopi yang jadi pelanggan di Coffeebroker ini. Ada yang memang benar-benar penikmat kopi single origin yang mencari harga kopi dibawah coffeeshop branded, ada mbak-mbak dan mas-mas yang sedang ikut arus kopi kekinian, ada kawan yang sedang ingin 'hijrah' dari kopi sachet yang terlalu manis untuk dilupakan karena alasan terindikasi diabetes, ada anak-anak sekolah yang sekedar ingin mangkal cari tempat tongkrongan yang tidak menggerus uang jajan, dan macam-macam alasan lainnya.

Kopi Setempat di Coffeebroker - dok. Pribadi

Dari alasan-alasan tersebut maka kemudian Coffeebroker kemudian menyajikan menu minuman yang tidak hanya kopi melulu. Dari menu kopinya sendiri ada banyak pilihan dari Kopi Suko (ini kopi Signature-nya, saya lupa tanya semalam apa isinya...he..he..he), Kopi Nusantara Single Origin, Espresso, Americano, Latte (dengan berbagai macam variannya) dan masih dilengkapi dengan menu Teh bermacam rasa sampai Dum-Dum (Thai Tea kekinian). Soal harga, yah masih standar menengah-lah...masih dibawah Coffeeshop yang punya nama besar dan mampu menyewa Ruko atau buka lapak di mall.
coffeebroker, kopi setempat
Menu di Coffeebroker - Instagram @coffeebroker.angkringan

Cerita perjalanan Coffeebroker sendiri ya sudah lumayan panjang. "Seperti ibaratnya kopi, kami sudah merasakan pahitnya usaha kopi diawal, kalau sekarang mah udah berbagai macam rasanya gak cuma pahitnya saja, kadang ya terasa manis, kadang terasa ada fruity-fruity-nya...ya begitulah bisnis kopi" kang Asep melanjutkan ceritanya.

"Dulu awalnya buka kedai kopi, sehari cuma terjual 1 gelas...seriiing, bahkan semalaman dari buka lapak sampai tutup sama sekali gak ada yang mampir...juga pernah. Tapi ya itu konsisten aja...jangan baru buka belum ketemu pasarnya karena alasan sepi terus tutup...pindah lokasi...lah kita mau jualan atau mau cari sarang...padahal pindah lokasi-pun bukan jaminan terus langsung ramai pelanggan, tetep aja kita kemudian harus sabar nunggu ada pembeli pertama, kedua dan seterusnya"
"Konsisten dan yakin aja mas bro....yang penting kita terus usaha...soal rejeki mah Tuhan yang atur...bukan kita", lanjut kang Asep. "Jadi mau banyak pelanggan yang mampir, atau sepi pelanggan...yang penting kita tetap buka dan jualan dengan begitu penikmat kopi yang tadinya cuma sekali mampir tidak akan kecewa saat mereka akan mampir lagi...siapa tau justru nantinya mereka jadi pelanggan tetap kita"

Konsep yang dijalankan di Kedai Coffeebroker adalah konsep Open Bar. Dalam konsep Open Bar ini, semua pelanggan yang merasa punya racikan sendiri, atau punya teori menyeduh kopi atau hanya sekedar iseng ingin mencoba teknik manual brewing, dipersilahkan untuk meracik dan membuat sendiri kopinya. Bisa sambil foto-foto atau bikin video bernarasi menjadi seorang barista, terus upload deh di akun medsos-nya.

Ala-ala Barista - Instagram @coffeebroker.angkringan

Selain itu kang Asep juga siap memandu dan mengajari caranya, racikannya dan takaran yang pas untuk secangkir kopi nikmat. Di Coffeebroker juga bebas saling sharing ilmu perkopian dan seluk beluk bisnisnya.
Yang penting ya saling ngobrol aja....jangan datang ke coffeeshop trus minta password wifi lalu sibuk dengan dunianya sendiri, karena jaman dulu sebelum virus wifi menjangkiti generasi muda milenial, kalau datang ke warung kopi ya untuk ngobrol...bersosialisasi...bertukar pikiran atau curhat-curhatan juga bisa.

Sampeyan berminat untuk mencoba jadi barista amatir ?
Silahkan datang langsung kesini....



Kedai buka setiap hari dari jam 19.00 WIB sampai jam 00.00 WIB....kalau pas yang mampir ngopi lagi sepi...kalau pas weekend ya bisa sampai jam 03.00 WIB

Kopi manis + gula itu ibarat pekerja kantoran yang berada di zona nyamannya. Nyaman dengan pendapatan yang tertakar setiap bulannya...seperti kopi instan yang manis dan pas takarannya (kalo pas gajinya....hehehehe). Manis memang...datang jam 08.00 WIB pulang jam 17.00 WIB, akhir bulan udah pasti gajian (ya segitu-gitu aja gajinya....bisa jadi bertahun-tahun tanpa kenaikan), tapi apa iya akan terus dipakai jadi pekerja kantoran hingga ujung usia ? Lha situ siapa ?

Sementara jadi pengusaha (kopi)...entah gerobak, angkringan atau ruko...atau kopi kekinian itu ibarat kopi asli tanpa gula (karena begitulah semestinya ngopi). Kopi asli itu akan selalu terasa pahit di awal...bagi sebagian orang...tapi setelah rasa pahit itu biasanya akan ada rasa-rasa sensasional yang mengikuti. Ada rasa manisnya, ada rasa buahnya, ada rasa asemnya, ada rasa coklatnya dan banyak rasa lainnya...termasuk rasa memperjuangkan hidup agar tidak berlalu sia-sia.
Standar SCAA, rasa kopi, kopi setempat
Rasa Kopi menurut SCAA

Jadi pengusaha (kopi) itu bukan lagi soal untung rugi...bukan soal berapa banyak nominal yang didapatkan...tapi lebih pada kepuasan dan pembelajaran bahwa kopi itu tidak selalu (hanya) terasa pahit, namun akan ada banyak rasa dan cerita yang mengikuti.

Yang penting Konsiten ya mas bro...
Load disqus comments

0 Comments