Revolusi Industri 4.0, Unicorn dan Dana Riset

Revolusi Industri 4.0 adalah pengembangan dari Revolusi Industri 3.0. Dimana kalau pada Revolusi Industri 3.0, misalnya satu pabrik industri mobil di German yang punya 15 ribu pekerja sekarang bisa diganti dengan robot-robot dan hanya membutuhkan kurang dari 50 orang pekerja. Lalu bagaimana dengan Revolusi Industri 4.0 ? Revolusi Industri 4.0 sudah melompat dan mengintegrasikan teknologi robotik dengan IoT (Internet of Thing, internet untuk segala) dan IoP (Internet of People, Internet untuk khalayak). Dalam Revolusi Industri 4.0, dunia itu ada dalam genggaman. Sampeyan bisa mengoperasikan mesin produksi yang robotik melalui Internet sehingga bisa jadi nantinya satu pabrik industri mobil cukup memiliki kurang dari 5 orang pekerja.

Seluruh negara dan setiap manusia di muka bumi apapun jenis ras suku dan agamanya, nantinya akan terdampak dengan Revolusi ini. Revolusi ini akan menyeberang dan melintasi batasan wilayah kedaulatan negara. Dan mereka yang tidak bisa mengimbangi kecepatan perubahan Revolusi ini akan tersingkir dan punah.

Masih ingat dengan kemunculan aplikasi Grab dan Gojek yang kemudian perlahan-lahan menggantikan ojek-ojek pangkalan. Atau Tokopedia dan Bukalapak yang sedikit banyak menggoyang hegemoni pasar swalayan dan Mall seperti Matahari dan jaringannya. Atau Traveloka yang membuat biro perjalanan banyak yang tutup atau kemudian terbatasi hanya melayani perjalanan ibadah ke tanah suci saja. Ya, semua itu adalah unicorn-unicorn yang muncul asal Indonesia. Lalu apa itu Unicorn ? Beberapa literatur sampai lembaga riset internasional menuliskan unicorn adalah sebuah perusahaan startup yang memiliki valuasi (nilai ekonomi yang dilakukan startup) hingga US$ 1 miliar.
Saya tidak ingin menceritakan lebih lanjut tentang ini, apalagi kemudian membahas kemungkinan uang 'kita' yang bisa lari ke luar negeri atau disparitas ekonomi disini.

Masalah yang harus dan mau tidak mau akan kita hadapi adalah mengenai pengembangan SDM. Bagaimana anak-anak, para generasi milenial Indonesia bisa survive. Bagaimana akhirnya kualitas pendidikan dan lulusannya, terutama lulusan pendidikan vokasi (baca: sekolah kejuruan) bisa memiliki daya saing dengan sistem robotik, bisa menguasai teknologi mekatronika dan teknologi IT.
Ini yang menjadi PR serius untuk Kementrian Pendidikan.


Photo by Martinus Heru

Coba perhatikan di pojok belakang ruang kelas salah satu sekolah menengah kejuruan tersebut. Untuk praktisi dunia industri tentu paham kalau mesin di belakang itu adalah mesin bervaluasi tinggi. Mesin itu adalah mesin CNC 4 axis, bukan mesin rongsokan yang tidak bisa beroperasi, hanya saja sayangnya SDM dan tenaga pengajar SMK tersebut tidak ada yang bisa mengoperasikan dan memanfaatkan untuk sarana praktek ataupun kegiatan produksi yang menghasilkan. Jika Gurunya saja tidak paham, bagaimana bisa mengajarkan anak didiknya untuk bisa menguasai mesin yang berteknologi industri tinggi, apalagi yang robotik dan berbasis IoT
Dari melihat foto diatas, saya mencoba menyimpulkan bahwa seberapapun Dana Riset yang dianggarkan dalam APBN untuk menyongsong Revolusi Industri 4.0, jelas tak akan berpengaruh secara signifikan.
Pola Pendidikan, Kurikulum bahkan cara mengajar di negeri ini yang kemudian harus di Revolusi terlebih dahulu. Jangan sampai kemudian memunculkan pertanyaan, untuk apa anak saya sekolahkan, jika semua pengetahuan dan keilmuan harus (atau bisa) dicari sendiri melalui tutorial di internet ?

Sekali lagi, saya bukan pesimistis, tetapi dengan kondisi SDM seperti ini apakah negeri ini akan mampu memasuki era Revolusi Industri 4.0 dg gagah berani ? 
Load disqus comments

0 Comments