Balada Orang Gajian, Ooo Tidak Semudah Itu Fulgensio

Saya sebetulnya pengin nulis judul 'Ketika yang bekerja tidak bekerja dengan sepenuh hati dan hasil kerja yang dihasilkan tidak sesuai dengan target yang sudah ditetapkan, pantaskah orang tersebut digaji dengan gaji yang sepantasnya ?' Tapi koq nanti jadi seperti judul Sinetron yang lagi hits sampai keluar negeri. Jadi saya singkat saja dengan judul seperti diatas.

Dalam paradigma masyarakat kita, masyarakat Indonesia, telah tertanam dalam-dalam bahwa orang yang 'bergaji', entah itu PNS atau karyawan swasta (termasuk buruh pabrik) menduduki kasta yang lebih terhormat dibanding mereka yang tidak bergaji. Dari situ kemudian semenjak kecil dalam lingkungan, keluarga dan sekolah, orang tua dan guru menanamkan bahwa setelah lulus harus jadi PNS atau setelah lulus ngelamar kerja di PT (perusahaan) atau harus jadi orang kantoran. Kenapa ? Karena orang yang 'bergaji' mempunyai proyeksi pendapatan tetap setiap bulannya. Ada sebuah jaminan mereka kerja atau gak kerja, berangkat ngantor atau males gak ngantor, masih bisa dipastikan akhir bulan pegawai ini tetap gajian. Belum lagi jika ingin mengajukan kredit (kredit perumahan, kendaraan atau barang elektronik) akan lebih mudah approval-nya untuk orang-orang bergaji, dengan syarat jaminan slip gaji.
Lambat laun di alam bawah sadar anak-anak yang diajarkan dengan paradigma demikian akan terpatri pemikiran 'saya harus jadi orang bergaji' bukan 'saya harus menjadi seorang pekerja'. Dalam hidupnya, tolak ukurnya adalah 'berapa besar gaji yang didapat' bukan 'berapa banyak hal baik yang sudah dikerjakan untuk orang lain'. Koq bisa saya menilai seperti itu ? Faktanya, dalam sebuah interview peluang kerja, hal yang menjadi titik berat adalah faktor salary, faktor gaji. Banyak yang saat interview bahkan tidak perduli apa yang nanti akan jadi beban kerja, yang penting 'saya nanti akan digaji berapa'. Berapa kenaikan UMR sekarang, minimal saya harus digaji sesuai dengan UMR tersebut kalo gak ya protes, tanpa perduli seberapa banyak kontribusi yang sudah diberikan pada perusahaan, layak atau tidak, sesuai standar target produksi atau tidak.

Namun sepertinya, dalam era distruptive seperti yang terjadi sekarang, pemikiran umum yang demikian sudah gak jaman...kalo menurut saya. Dan sepertinya sudah banyak anak-anak muda jaman now yang berusaha untuk keluar dari patern pemikiran tersebut.

dok. google Pangkas Rambut Asgar

Seperti cerita tukang cukur asal Garut yang nyukur rambut saya semalam. Si Tukang Cukur ini, sebut saja Asep namanya. Asep cerita panjang lebar sambil jungkir balik nyukur kepala saya. Asep ini umur 20 th, setelah lulus SMA, tadinya dia pengin coba nglamar kerja di pabrik, jadi buruh. Tapi kakaknya bilang 'Buat apa kerja jadi buruh kalo cuma dikontrak. Buruh kontrak paling lama 2th, setelah itu akan pusing lagi cari kerjaan, nglamar-nglamar lagi, dan belum tentu juga bisa langsung dapat kerja lagi setelah kontrak habis'. Setelah dapat masukan begitu dari kakak saya, saya lalu banyak bergaul, nongkrong dan banyak ngobrol sama teman-teman yang bisa cukur rambut akhirnya saya tergerak belajar cukur rambut. Beruntung kemudian saya bertemu boss yang mau modalin saya buka Pangkas Rambut Asgar (Asli Garut). Tapi ya gitu kang, boss mah enak...bagi hasil fifty-fifty...gak tau kita jungkir balik nyukur sampai pinggang dan tangan pegel-pegel...kalo saya dapat 2 juta misalnya, ya separo-separo. Si boss terima 1 juta...lha kalo saya kan 1jt masih buat makan, rokok, kopi...jadi paling sisa didompet paling tinggal 300 ribu. Makanya saya pengin buka sendiri aja kang kalo nanti sudah kumpul modal buat beli alat-alat cukur.
Lalu si Asep mulai berhitung....kalo misalnya hari biasa saya cuma dapat 12 kepala paling banyak, 12 dikali 18ribu berarti saya 1 hari bisa dapat 216 ribu, terus saya bagi 2 sama boss saya tinggal pegang 100 ribu sehari, buat makan 3x, rokok dan kopi....habis...sementara boss tetap dapat jatah. Nah, kalo saya buka sendiri kan hasilnya full buat saya...hehehehe. Apalagi kalo mau lebaran kang....saya bisa dapat tamu dan nyukur 30 kepala setiap hari. Coba itu, berapa hasilnya...banyak kan.

Ooooo tidak semudah itu Fulgensio...
Hitung-hitungan bisnis itu tidak sesederhana itu walau sebetulnya memang sesimpel itu. Makanya nabung....gak usah ngerokok....kalo misalnya sekarang rokok saja sehari 2 bungkus berarti sudah buang uang 40 ribu sehari. Coba itu ditabung, sehari 40 ribu, sebulan sudah 1,2 juta.
Tapi lagi-lagi...tidak semudah itu Fulgensio....mumet kan

Saya kasih tau satu hal yang mudah dan enak. Datang (seringnya sih mangkir), Duduk (seringnya sih ngantuk dan tidur), Diam (atau teriak setujuuu dalam voting) terus dapat gaji (dan tunjangan) gede....mau ? Jadilah Wakil Rakyat yang terhormat. Lalu saat dikomplain karena produk yang sudah ditargetkan (padahal ya mereka sendiri yang bikin target itu) gak tercapai dan kemudian 'diancam' tidak digaji, langsung ribut protes`

Karena lagi-lagi....tidak semudah itu Fulgensio...
Sesungguhnya tidak ada yang mudah semudah omongan para motivator....percaya deh
Load disqus comments

0 Comments