Natal, Hari Perayaan Yang Tidak Pernah Diperintahkan Untuk Dirayakan Sebagai Hari Yang Raya

Banyak perdebatan (terutama dari yang Non Kristen) tentang tanggal 25 Desember yang selalu diperingati sebagai Hari Raya Natal oleh umat Kristen - Katolik. Ada pihak yang bilang bahwa perayaan Natal di tanggal 25 Desember adalah berasal dari tradisi kafir karena mengikuti perayaan kaum pagan (kaum kafir). Cerita semacam ini bukan hal baru, yang kemudian selalu dijadikan amunisi bagi sebagian orang untuk menarik pengikut dan mencari keuntungan pribadi.
Penanggalan Natal 25 Desember yang kemudian dianggap sebagai ritus kaum pagan, sebenarnya sudah dipermasalahkan dari abad 18 oleh Paul Ernst Jablonsky. Menurut teolog dari Jerman ini, Perayaan Natal tanggal 25 Desember berasal dari ritus pagan "Natalis Sol Invicti" (Lahirnya Dewa Matahari yang tak terkalahkan). Teori ini spekulatif karena tidak merujuk dokumen-dokumen kuno, dan kemudian malah di kutip beberapa encyclopedia tanpa adanya check and recheck, teori yang berdasarkan asumsi ini lantas menyebar ke seluruh dunia. Tak heran kalo kemudian di Indonesia banyak juga orang-orang (yang dianggap) pemuka agama ikut menyebarkan teori yang tanpa didasari data-data rujukan yang benar....hanya berbekal 'katanya'.

Kultus perayaan kelahiran Dewa Matahari di Roma itu mulai muncul tahun 274 M, sedangkan misa malam Natal pada tanggal 24 Desember sudah mulai dirayakan sejak tahun 125 M, oleh Paus Telesporus di Roma. Lalu ada Uskup Theofilus di Kaesarea merayakan Natal 25 Desember 160. Kendati demikian tanggal kelahiran Yesus kemudian memang baru dikanonkan (dimasukkan dalam hukum gereja) tahun 189, tak lama sesudah Demetrius I menjadi Patriakh Gereja Alexandria I. Dari sini saja sudah bisa disimpulkan bahwa perayaan Natal sebagai kelahiran Yesus di tanggal 25 Desember itu sudah ada lebih dulu sebelum perayaan kelahiran Dewa Matahari.

Terlepas dari segala perdebatan tentang bagaimana awal mula Natal dirayakan, Natal, sebenarnya pada abad-abad pertama perkembangan hidup kerohanian anggota-anggota jemaat pengikut Kristus awal, tidak pernah mendapat perhatian. Natal yang dimaksudkan sebagai perayaan ulang tahun kelahiran, umumnya - terutama oleh Origenes, seorang filsuf Bapak Gereja - dianggap sebagai kebiasaan kafir karena orang-orang seperti Herodes dan Firaun yang sering merayakan hari ulang tahun mereka, adalah golongan kafir yang tidak percaya akan adanya Tuhan.
Nah pada kebiasaan Kristen jaman Kristen awal, orang Kristen merayakan hari kematian sebagai hari ulang tahunnya. Makanya inti dari kepercayaan yang dirayakan umat Kristen itu bukan dari kelahiran Yesus, tapi dari kematian dan kebangkitan Yesus, yaitu peristiwa Paskah. 

Pada masa sekarang ini paradigma yang berkembang, Natal adalah merupakan hari raya yang megah dan meriah, Jika tidak meriah berarti belum Natal katanya. Saya, sampeyan dan mereka bahkan sudah melupakan esensi bahwa Natal itu adalah kesederhanaan, dan menganggap bahwa Natal adalah sebuah pesta kemenangan.
Natal itu bukanlah pesta kemenangan dan bukan pula hanya sebatas soal perayaan kelahiran Yesus Almasih. Natal itu seyogianya adalah perayaan hadirnya Tuhan dalam kehidupan manusia. Dan itu adalah hal yang sulit dilakukan saat ini. Angel wes...angel tenan pokok'e...wis angel wes...

Kita, saya, sampeyan dan mereka, saat ini seringkali tidak menyadari betapa sulitnya kita mengenal, mengalami dan menghargai kehadiran dan kebaikan orang lain. Apalagi diminta menyadari kebaikan Tuhan yang hadir dalam diri orang, mengalami kebaikan Tuhan yang menjadi nyata dalam keseharian kita melalui diri orang lain.
Dalam kisah Natal (di Alkitab) diceritakan bahwa saat proses kelahiran Yesus, Bapak dan Ibu-Nya mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat penginapan. Mengalami berbagai penolakan di tempat penginapan dengan alasan penginapan yang penuh karena adanya sensus penduduk saat itu. Bagaimana jika para pemilik penginapan itu kemudian tau bahwa penginapannya akan kedatangan tamu sesorang yang besar. Hanya karena mereka itu tidak tau, makanya mereka menolak 'Dia'. 

Jika kembali ke jaman now, pas hari Natal ini mungkin sampeyan sedang seperti saya yang seharian sibuk mbalesi Whatsapp, sms, telpon, video call atau sibuk mbalesi komentar-komentar di status medsos. Mungkin sampeyan seperti saya yang sibuk membuat acara makan-makan keluarga atau berkumpul dengan para tetangga yang dipenuhi kegembiraan dan kemeriahan acara Natal. Atau mungkin sibuk keliling dari gereja ke gereja lain untuk update status foto-foto di depan replika gua Natal....padahal lagi pandemi begini dan saya atau mereka gak mau perduli. 
Natal itu bukan soal itu semua....Natal itu soal bagaimana kita (saya dan sampeyan) mengenali Tuhan yang hadir dalam peristiwa-peristiwa dan dalam pribadi-pribadi yang selama ini tidak kita gubris. Mengenali Tuhan yang hadir dalam diri orang-orang sekitar kita yang selama ini tidak pernah kita perhitungkan....tidak di tempatkan dengan semestinya....tidak pernah kita hargai. Dalam diri orang-orang yang kalo gak ada dicari tapi kalo ada selalu diajak bertengkar
Natal itu adalah mengenai saat dimana kita belajar mengalami Tuhan yang hadir dalam pribadi-pribadi dan peristiwa-peristiwa yang selama ini kita tolak.

Natal itu saat dimana Tuhan mengajarkan dengan menunjukkan bahwa dalam kehidupan ini ada sebuah misteri dimana 'hanya Tuhan yang tau' alasannya. Sama seperti hanya Tuhan yang tau siapa saja nama gembala yang di datangi malaekat untuk disampaikan tentang berita gembira kelahiran Yesus.
Kerap kali kita tidak pernah mengerti kebaikan Tuhan....arah Tuhan itu mau kemana, tetapi yang paling utama adalah bukan untuk mengerti dan memahami, tapi menjalani kehendak Tuhan...itu yang utama.

Natal itu adalah soal bagaimana kita menerima Tuhan dalam segala hal dan pribadi-pribadi yang ingin kita tolak. Menerima kebaikan Tuhan sebagai sebuah kebaikan, bukan terus kita membandingkan lalu kita terus mulai kehilangan saat ini. 
Misalnya dengan kejadian pandemi ini...peristiwa yang selalu ingin kita tolak dan berharap segera berakhir. Natal 2020 ini kemudian mau tidak mau kita dipaksa untuk bisa menerima Tuhan dan kemudian menghadirkannya dalam ruang-ruang keluarga dan dalam rumah-rumah 'kandang' kita melalui misa online. Natal 2020 ini tidak hadir dengan penuh gegap gempita, melainkan hadir dalam keterbatasan ruang dan keheningan di rumah masing-masing.

Disini kemudian kita kemudian dituntut untuk menghadapi situasi dan pembiasan-pembiasan saat kita belajar kembali untuk mengenal Tuhan yang saat ini sudah sulit kita kenali.
Coba kita sejenak merenungkan, apakah saya atau sampeyan sudah siap menerima Tuhan yang hadir dalam diri orang-orang sekitar saya seperti misalnya saya sanggup menerima pasangan yang saat ini sedang sakit, menerima pasangan dan atau mertua yang mungkin tidak seperti yang saya bayangkan.

Natal kali ini....kita rayakan dalam sepi laksana hari raya yang tak pernah diperintahkan untuk dirayakan.

Selamat Natal !
Post Navi

Post a Comment

0 Comments

Close Menu