Gua Maria Besokor | Perjalanan Panjang dari Lubang Persembuyian Jepang Menjadi Tempat Menepi dan Menata Hati

“Rekreasi sesungguhnya, tidak hanya jalan-jalan atau piknik. Rekreasi memiliki arti penciptaan kembali. Jadi dengan berekreasi orang sebenarnya diharapkan mengalami penciptaan kembali, kemudian membuat hidupnya lebih teratur, lebih harmonis.”
Mgr. Ignatius Suharyo. Pr


Sekitar 3 km ke arah Selatan dari Jalur Daendels Pantura Desa Weleri, melewati jalan raya ke arah Temanggung, ada Dukuh Besokor, yang masuk wilayah administratif Desa Sidomukti, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Dukuh Besokor ini, secara wilayah tugas pelayanan Gereja Katholik, masuk dalam wilayah tugas Keuskupan Agung Semarang, Paroki St. Martinus, Weleri.

Tahun 1966, Keuskupan Agung Semarang menugaskan Romo Danu Widjoyo (Alm) dalam Project Pengembangan Karya Keuskupan Agung Semarang di bidang Pertanian, kala itu Dukuh Besokor merupakan Dusun miskin dengan sebagian besar penduduknya bekerja sebagai Buruh Tani. Di tanah milik Keuskupan Agung Semarang (dibeli tahun 1959), dibangunlah Bruderan yang misi tugasnya kala itu di bidang Kesehatan, terutama menangani orang-orang yang mengalami Gangguan Mental dan Stress akibat Perang Kemerdekaan.

Tahun 1981, Rumah Bruderan tersebut diserah kelolakan pada karya Para Suster Abdi Dalem Sang Kristus (sekarang menjadi Abdi Kristus, disingkat AK). Pada waktu itu terbentuklah kelompok "17" yang beranggotakan Para Suster ADSK dan Dewan Paroki St. Martinus yang kemudian membenahi 2 sumber mata air, Tuk Watu Angkrik dan Tuk Sirondo. Dari 2 Sumber Mata Air (Tuk) ini kemudian dialirkan dan menjadi sumber air bersih untuk Warga sekitar Dusun Besokor.

Penemuan Gua


Bulan Desember 1987, Romo T. Widyono. SJ yg kala itu adalah Romo Paroki St. Martinus Weleri, bermimpi bertemu dengan sosok penampakan Bunda Maria. Dalam mimpi tersebut, Bunda Maria menunjukkan ada sebuah Gua (lubang) di wilayah perbukitan Besokor, yang sangat baik digunakan sebagai tempat refleksi diri, berdoa, mengeluh dan mengadu kepada Tuhan, demikian cerita Romo T. Widyono. SJ yg saat ini mengisi masa 'sepuh'nya di pertapaan Girisonta, Ungaran.

Keesokan paginya, setelah selesai mempersembahkan misa pagi di kapel Susteran ADSK, Romo T. Widyono, SJ menceritakan mimpinya pada para Suster dan menanyakan pada beberapa orang umat lingkungan Besokor tentang 'Gua' seperti yg ditunjukkan Bunda Maria dalam mimpinya. Memang ternyata ada 3 gua di kawasan perbukitan Besokor. 1 gua diarea tanah milik Keuskupan Agung Semarang, dan 2 gua lagi diluar tanah Keuskupan Agung Semarang. Mendengar keterangan tersebut, Romo Widyono kemudian mengajak Suster dan beberapa orang umat untuk mencari dan melihat gua-gua tersebut.

Ketika melihat gua (lubang) yg kebetulan berada di area tanah milik Keuskupan, Romo Widyono menunjuk dengan yakin bahwa gua (lubang) itu yang ditunjuk Bunda Maria dalam mimpinya. 'Gua' yang dimaksud itu ternyata adalah sebuah lubang yang tertutup alang-alang dan semak belukar, yang dulunya merupakan tempat persembunyian tentara Jepang, dan setelah perang kemerdekaan berakhir lubang itu sempat digunakan oleh penduduk sekitar sebagai tempat pembakaran kulit Randu (semacam buah kapas, yang kulitnya digunakan sebagai bahan dasar 'sabun bebek'). Di bawahnya ada lubang terowongan selebar 0,5 m dan tinggi sekitar 1m yang merupakan lubang untuk mengeruk abu hasil pembakaran kulit randu.

Pentahtaan Patung Bunda Maria Pertama Kali


Segera setelah Lubang Gua ditemukan, Suster Ambrosia mengajak umat Lingkungan Besokor untuk bergotong royong membersihkan Gua tersebut dari ilalang dan semak belukar sekitarnya dan atas prakarsa Romo Widyono, lubang gua dibesarkan dan dibuatlah undak-undakan (trap-trapan) ditepian gua, yang dimaksudkan sebagai tempat duduk dan berdoa bagi para penziarah atau umat yang datang berkunjung untuk berdoa.

Pada awal Mei 1988, patung Bunda Maria yang berukuran kecil ditahtakan pertama kali di dalam 'Gua' kecil sumbangan dari Bapak Anwar Chandra (alm), umat Paroki St. Martinus. Gua kecil tersebut saat ini masih ada dan ditempatkan dibagian bawah patung Bunda Maria, sebelah lubang terowongan.
Diawali misa Kudus yang dipimpin Romo Widyono, Pentahtaan tersebut sekaligus sebagai penanda pembukaan bulan Maria, Mei 1988. Dan tanggal 31 Mei 1988 diselenggarakan misa kedua, di area Gua sebagai penutup bulan Maria.

Sempat Terabaikan


Sampai tahun 1995, tempat doa ini praktis tidak ada pembangunan yang berarti Pembangunan saat itu yang dilakukan hanya penggantian patung Bunda Maria (3x penggantian), Pembenahan Bak penampungan air Tuk Sirondo dan memperbesar lorong terowongan, yang aslinya berukuran lebar 0,5 m - tinggi 1 m menjadi lebar 1,5 m - tinggi 2 m.

Terowongan yang dulunya merupakan lubang pengambilan abu hasil pembakaran Randu
Acara peribadatan yang diselenggarakanpun hanya acara insidential tahunan seperti Jalan Salib saat Jum'at Agung.
Seperti ada keengganan tertentu di sebagian umat Paroki St. Martinus karena ada yang menganggap tempat ini telah tercemar. Mungkin karena lokasi yang sepi tanpa pengawasan tapi bersih dari semak belukar sehingga beberapa kali kedapatan disalah gunakan sebagai tempat berbuat mesum oleh remaja sekitar Weleri yang salah arah. Belum lagi karena penolakan dari Umat beragama lain yang terkadang melakukan aksi vandalisme seperti mengalungkan 'jeroan' ayam di patung Bunda Maria.
Sampai kemudian di tahun 2000 ada umat Stasi Cepiring yang tergerak mengumpulkan donasi untuk membangun dan memperbaiki jalur jalan salib yang ada.

Pembangunan Dilanjutkan


Sekitar bulan Oktober 2001, setelah 'perhentian jalan salib' permanen selesai dibuat dan siap ditempatkan di jalur jalan salib, barulah ada dukungan dari Dewan Paroki St. Martinus, yang kala itu di ketuai Bapak Petrus Daldjo Pranoto. Dalam rapat Dewan Paroki dibentuk Panitia Paskah 2002 dan Panitia Pembangunan Goa dengan target agar Jalur Jalan Salib permanen, Makam Yesus dan pelataran doa yg siap digunakan pada Paskah, bulan April 2002.
Replika Makam Yesus

Kapel dan Pelataran Doa
Tahun 2002 tempat doa ini resmi dinamai Goa Bunda Maria Ratu oleh Romo YB. Suyitno, SJ, dan 1 Oktober 2002 dilakukan Pentahtaan Patung Bunda Maria Ratu melalui Misa Konselebrasi yg dipimpin Romo J. Sukardi. Pr (Vikjen Keuskupan Agung Semarang).

Peresmian


Tanggal 29 Juni 2003, dengan diawali Misa Konselebrasi yg dipimpin Uskup Agung Semarang kala itu, Bapak Mgr. Ignatius Suharyo. Pr (sekarang Uskup Agung Jakarta) didampingi Romo J. Sukardi. Pr selaku Romo Vikjen dan Romo YB. Suyitno. SJ selaku Romo Paroki St. Martinus, Weleri. Misa ini dihadiri 3000'an umat Katolik dari berbagai wilayah seperti Bandung, Cirebon, Pekalongan, Jogjakarta, Weleri, Kendal dan sekitarnya.
Setelah misa konselebrasi, dilanjutkan peresmian oleh Bupati Kendal saat itu, Bapak Hendy Boedoro. SH. Msi.

Gua dan patung Bunda Maria tampak dari Jalan Raya Weleri - Sukorejo arah Temanggung

Cara Menuju Lokasi Gua Bunda Maria Ratu

  • Dari Jakarta, Cirebon, Tegal, Pemalang, Pekalogan menggunakan sarana transportasi Kereta Api (KA Menoreh, Tawang Jaya, Kertajaya, Jayabaya) turun di Stasiun Weleri kemudian dilanjutkan dengan angkutan bus 3/4 Jurusan Sukorejo - Magelang.
Dengan Kereta Api turun di Stasiun Weleri
  • Jika menggunakan mobil pribadi dari Jakarta lewat tol Semarang-Batang, setelah melewati Jembatan Kalikuto ambil lajur kiri keluar Tol, sampai di perempatan lampu merah Jalan Lingkar Luar belok kanan melalui jalur Pantura lama dalam kota, lurus sampai pertigaan arah Sukorejo belok ke kanan dan lurus terus sampai di Lokasi Gua.

Selamat ZiaRek...

Post Navi

Post a Comment

0 Comments

Close Menu