Episode Mengantar Tuhan Mengunjungi Keluarga | Tentang Pelayan Pembawa Komuni

Sudah hampir 1 tahun Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan bisa diakhiri dengan indah. Itu artinya sudah hampir 1 tahun semua umat beragama menjalankan prosesi ibadahnya dirumah. Di beberapa tempat peribadatan memang sudah mulai berangsur kembali (seperti) normal, tapi belum untuk Gereja Katolik yang sampai saat ini masih mencoba menerapkan pembatasan kehadiran umat dalam Misa Kudus tiap minggunya.

Bagi umat Katolik dalam masa Pandemi seperti sekarang ini, hampir di semua Gereja Katolik dan hampir disemua Keuskupan belum bisa sepenuhnya menjalankan prosesi peribadatan (Misa Kudus) secara offline di gereja. Sehingga sampai saat ini Misa Kudus mingguan, bahkan Hari Raya seperti Natal yang lalu, umat Katolik masih mengandalkan program-program Live Streaming lewat Youtube untuk bisa beribadah. Namun ada satu hal pokok yang membedakan Proses Peribadatan Katolik dengan Peribadatan Kristen Denominasi lain yang tidak bisa diterapkan melalui ibadah Live Streaming yaitu Sakramen Ekaristi. 
Bangku Gereja di Masa Pandemi - dok. Pribadi
Ekaristi dalam Gereja Katolik, adalah perayaan Misa, liturgi ekaristis. Istilah Ekaristi juga digunakan untuk menyebut roti dan anggur setelah ditransubstansiasikan (substansinya telah diubah), berdasarkan ajaran Katolik, menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Menurut Katekismus Gereja Katolik, "Pada Perjamuan Terakhir, pada malam waktu Ia diserahkan, Penyelamat kita menetapkan kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya.". Sakramen Ekaristi ini adalah inti dari Iman Katolik, dimana dalam Peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus memerintahkan murid-murid-Nya dengan kalimat ".....Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku".

Lalu bagaimana dengan kondisi Pandemi seperti sekarang ini ? Kondisi Pandemi dimana Misa (Ekaristi) hanya bisa dilakukan melalui media online (Streaming via Youtube), seperti yang pernah saya ceritakan di artikel 'Streaming Menghadirkan Tuhan' memaksa umat Katolik hanya bisa melakukan Komuni (Prosesi menerima tubuh Kristus dalam bentuk Hosti) hanya bisa dilakukan dengan cara Komuni Batin.

Komuni Spiritual, atau Komuni Batin, secara umum merupakan keinginan mendalam untuk bersatu dengan Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus sebagai tanggapan akan keinginan Tuhan sendiri atas persatuan tersebut. Praktik ini biasa dilakukan di kalangan umat Katolik yang belum dapat menyambut komuni secara nyata (sakramental) dalam Misa Kudus. Dalam Kamus Teologi dikatakan bahwa Komuni Spiritual merupakan praktik menerima komuni dalam batin atau secara rohani jika penerimaan Hosti Kudus secara jasmani tidak memungkinkan (misalnya karena dosa berat, lihat: Bobot dosa). Penerimaan komuni secara spiritual tetap mensyaratkan umat yang hendak melakukannya untuk mempersiapkan dirinya layaknya orang yang mengikuti perayaan Ekaristi.

Mengenai Komuni Batin ini, Santo Thomas Aquinas, dalam Summa Theologia, menjelaskan bahwa seseorang yang menerima komuni sakramental secara layak (tidak dalam halangan untuk menerimanya), juga menerimanya secara spiritual; pembedaan makna komuni spiritual sebenarnya terjadi di mana seseorang tidak dapat memperoleh manfaat dari penerimaan secara sakramental. St Thomas juga menegaskan bahwa manfaat dari Sakramen Ekaristi (maksudnya: Komuni Kudus) dapat dirasakan oleh setiap orang walau ia hanya merindukan atau menginginkannya, tidak menerimanya secara nyata, serupa dengan Baptisan Kerinduan (1 Korintus 10:1-4). Namun, bagaimanapun juga seseorang perlu menerima komuni secara sakramental agar memperoleh manfaat sepenuhnya dari sakramen tersebut, dibandingkan dengan hanya keinginan itu saja.

Mengingat perlunya penerimaan komuni secara sakramental tersebut dan mempertimbangan aturan pembatasan jumlah kehadiran umat dalam Misa yang di selenggarakan Offline di Gereja, maka Keuskupan Agung Jakarta kemudian mengatur agar umat yang mengikuti misa secara online Streaming tetap bisa ikut menerima komuni sakramental secara layak. Sesuai dengan Praenotanda (Petunjuk Khusus) Perayaan Sabda Hari Minggu dan Hari Raya (PSHMR) halaman 8, bahwa dalam keadaan khusus (extraordinaria) maka penerimaan Komuni Suci sangat mungkin untuk bisa diterimakan tanpa kehadiran imam.

Syarat pokok Penerimaan Komuni tidak berubah yaitu, semua umat Katolik yang berusia 18-59 tahun dan memenuhi persyaratan menerima Komuni Kudus (sudah dibaptis dan menerima Komuni Pertama dan tidak terhalang) boleh menyambut Komuni Kudus. Komuni Kudus ini nantinya akan dihantar umat Katolik (salah satu anggota keluarga) yang (juga) layak dan pantas serta memenuhi persyaratan, tanpa harus Imam atau Diakon yang menerimakannya.
Nah, anggota keluarga yang bertugas membawa Hosti yang sudah dikonsekrir (disebut Sakramen Maha Kudus atau SMK) inilah yang kemudian disebut Pelayan Pembawa Komuni (PPK).
Istilah-Istilah Tentang PPK dok. KAJ

Tentang Pelayan Pembawa Komuni (PPK)

PPK Membawa Piksis - dok. Pribadi
Pelayan Pembawa Komuni (PPK) ini juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan sbb:
  • Berusia 18 -59  tahun
  • Beriman Katolik
  • Telah menerima Sakramen-Sakramen Inisiasi penuh (Baptis, Penguatan dan Ekaristi )
  • Sehat jasmani dan rohani
  • Berkenan menghantar Komuni Kudus, mengikuti aturan yang telah ditentukan oleh pihak ordinaris wilayah.
Alat yang diperlukan untuk membawa Sakramen Maha Kudus dari Gereja ke rumah disebut PIKSIS. Piksis ini didalamnya diberi alas putih yang kemudian ditempatkan dalam kantong yang bisa dikalungkan didada si Pelayan Pembawa Komuni. Hal ini dimaksudkan sebagai pengingat bahwa yang dibawa si Pelayan Pembawa Komuni ini adalah Hosti yang harus diperlakukan sebagai entitas suci Sakramen Maha Kudus.
PIKSIS - dok. Pribadi
Oh iya, sebelum Pelayan Pembawa Komuni ini membawa dan mengantarkan Komuni Kudus kepada keluarganya, PPK ini wajib mengikuti Misa Kudus secara Offline di Gereja. Bukan ujug-ujug datang terus mengambil Komuni Kudus ini ya. Sebelum berangkat ke Gereja untuk mengikuti Misa Offline-pun, PPK harus mendaraskan Doa Mohon Rahmat Kesetiaan dan Kasih Membawa Sakramen Mahakudus.
Demikian juga anggota keluarganya di rumah juga wajib mengikuti Misa Kudus secara daring via Live Streaming. Untuk tata cara mengikuti misa Live Streaming, saya sudah ceritakan di artikel 'Streaming Menghadirkan Tuhan'.

Tata Cara Ibadat Penerimaan Komuni

Altar Kecil di Rumah
Setelah sampai di rumah, PPK meletakkan PIKSIS yang dialasi kain putih di Altar kecil di rumah. Sesuai Protokol Kesehatan masa Pandemi, maka PPK harus mandi terlebih dahulu sebelum memulai Ibadat Penerimaan Komuni dan jangan lupa membersihkan Piksis (mengelap) dengan alkohol 70%.

Tata Cara ibadat-nya kurang lebih sebagai berikut:
  • Setelah hening, doakan doa Bapa Kami, Anak Domba Allah, dan bersiap menyambut SMK dengan hormat (lihat teks ibadat yang sudah disiapkan, disini).
  • PPK membersihkan kembali piksis dengan alkohol 70% sebelum dibuka
  • Lansia wajib memakai masker
  • Anggota keluarga membersihkan tangan dengan hand sanitizer
  • PPK mencuci tangan, kemudian membuka piksis, lalu membagikan komuni dengan tangan
  • Anggota keluarga yang sakit : PPK menerimakan SMK langsung ke dalam mulut yang bersangkutan (giliran terakhir)
  • Setelah menerima SMK, seluruh anggota keluarga dan PPK kembali mencuci tangan
  • Piksis dibersihkan dengan alkohol 70% setiap kali akan digunakan dan sudah digunakan.
Untuk Panduan Penerimaan Komuni Kudus Masa Pandemi, bisa didownload disini
Teks Ibadat Penerimaan Komuni, bisa didownload di sini

Tentang PPK Gereja Katolik St. Albertus Agung, Harapan Indah

Prosedur Pendaftaran untuk jadi PPK dan informasi tentang Misa Offline ataupun Online, silahkan sampeyan tanyakan ke Pengurus Lingkungan atau Paroki masing-masing.
Sejauh yang saya tahu adalah satu hal yang perlu dipastikan terlebih dahulu kalau sampeyan kebetulan termasuk warga Keuskupan Agung Jakarta, maka silahkan check dahulu, sampeyan dan keluarga sampeyan sudah terdaftar dalam BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) Keuskupan Agung Jakarta atau belum. Kalau belum ya sampeyan urus terlebih dahulu pendaftaran BIDUK dan pembuatan Kartu Keluarga Katolik-nya dulu di Ketua Lingkungan sampeyan. Baru nanti bisa daftar jadi Pelayan Pembawa Komuni.

Bukan soal berapa banyak anggota keluarga yang kemudian bisa sampeyan layani sebagai Pelayan Pembawa Komuni, tapi lebih kepada bagaimana sampeyan bisa menjadi Juru Antar Tuhan mengunjungi keluarga sampeyan. Ada rasa yang tidak bisa di ceritakan saat sampeyan bisa 'membawa' Tuhan ke tengah-tengah keluarga sampeyan....

Monggo dicoba ya biar sampeyan dan keluarga bisa terima Komuni lagi setelah sekian lama hanya bisa secara batin merindukan kehadiran Tuhan....
Load disqus comments

0 Comments