Sedulur Papat Kalimo Pancer Dalam Kerangka Pemahaman Budaya dan Agama

Ritual Menguburkan Plasenta - dok. Pribadi
Saya sedang membayangkan, kalo misalnya Yesus itu di lahirkan di Jawa dan saat-saat sekarang ini, bukan pas masa sebelum Masehi dulu, mungkin Bapaknya Yesus....Santo Yosef (Yusuf)....saat-saat sekarang ini sedang sibuk menguburkan ari-ari (plasenta). Mungkin untuk sebagian besar masyarakat Jawa yang masih 'Njawani' sangat paham dengan konsep tradisi menguburkan ari-ari sebagai bagian dari konsep spiritual Jawa'Sedulur Papat Kalimo Pancer'.

Tradisi (pakem) spiritual Jawa tentang Sedulur Papat Kalimo Pancer, mungkin sudah ada dan dihayati dari sebelum agama-agama samawi ber-invasi ke negeri Nusantara ini. Alih-alih kemudian melakukan inkulturasi budaya, seringkali justru malah orang yang melakukan hal yang sesuai dengan adat dan tradisi budaya dianggap bid'ah, syirik, serta dikafir-kafirkan karena dianggap musyrik serta dianggap menyekutukan Tuhan dengan apa entah.

Saya sedang tidak ingin memperbandingkan dan membenturkan nilai agama dengan budaya, seperti tetangga sebelah. Karena sebenarnya menurut saya, agama sendiri itu merupakan bentuk kebudayaan manusia yang berkembang secara nalar dan pemahamannya tentang semesta dan isinya. Yang kemudian diperkuat dengan kitab-kitab hukum yang 'diklaim' diturunkan langsung dari langit....yang katanya juga berisi ajaran untuk membuat alam semesta ini menjadi lebih baik ? Tapi benarkah demikian....entah. Saya tidak ingin dan tidak berhak menyimpulkan apapun yang jadi pemahaman sampeyan.

Disini saya cuma mau cerita tentang Falsafah dan Pakem Spiritual Jawa tentang Sedulur Papat Kalimo Pancer yang dilihat dari sisi kebudayaan Jawa yang umurnya mungkin sudah ribuan tahun tapi mulai tersingkirkan oleh paham spiritualitas luar yang datang dan masuk ke Nusantara belakangan. Spiritualitas Jawa Kuno ini diturunkan dan diajarkan secara turun temurun melalui kidung-kidung ajaran yang di kitabkan sejak jaman Empu-Empu penulis kitab jaman-jaman kerajaan dulu.

Secara keyakinan Jawa yang diajarkan para eyang jaman dulu, Sedulur Papat ini adalah entitas spiritual yang menemani perjalanan hidup seorang anak manusia dari sejak berada di dalam Kandungan, lahir dan hidup di dunia fana (Bebrayan Agung) sampai kelak kematian menjemput. Secara ringkas, Sedulur Papat Kalimo Pancer atau dimaknai sebagai Empat Saudara dan Pancer (pusat) Kelima Pancer yaitu diri si manusia itu sendiri. Yang kemudian bisa dijelaskan adalah sebagai berikut:
  • Pertama: Kakang Kawah itu adalah Air Ketuban yang membantu proses kelahiran seorang ke alam dunia ini. Karena air ketuban ini keluar lebih dahulu, maka masyarakat spiritual Jawa menyebutnya sebagai Kakang Kawah (Kakak Air Ketuban) sebagai saudara yang lebih tua.
  • Kedua: Adi Ari-ari (Adik Plasenta). Setelah bayi keluar maka yang keluar selanjutnya dari rahim seorang ibu adalah Plasenta, sehingga masyarakat Jawa kemudian menyebutnya dengan Adi Ari-Ari (Adik Plasenta).
  • Ketiga: Getih (darah). Getih atau darah adalah elemen utana yang keluar bersama dengan Ari-ari (plasenta) sehingga bisa dibilang sebagai saudara kembar si plasenta. Darah juga yang menjadi pelindung untuk jabang bayi saat masih ada dalam kandungan.
  • Keempat: Puser (Tali pusat). Pusar atau tali pusat adalah penghubung antara ibu dan si bayi dalam kandungan. Dengan adanya tali pusat ini sang ibu mampu memberikan nutrisi dan bisa memiliki hubungan batin yang erat dengan jabang bayi. Tali puser juga merupakan saluran bernafas sang bayi.
  • Kelima : Pancer. Pancer adalah diri sang jabang bayi sebagai pusat pengendali kesadaran.
Dari pengertian ini kemudian seiring dengan masuknya pengaruh Hindu, Sedulur papat (empat saudara) ini kemudian dimaknai sebagai empat kiblat/unsur alam yang menjadi pembentuk jasad manusia. Empat unsur (anasir) ini adalah tanah (bumi), air, api dan angin (udara), dengan pusatnya (pancer) adalah diri manusia itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu di timeline Facebook saya, sempat diramaikan dengan bahasan tentang ceramah seorang (yang dianggap) pemimpin agama yang mengatakan bahwa tradisi tumpeng adalah tradisi Hindu. Tradisi ini bisa membuat orang yang ikut membuat tumpengan dan acara slametan langsung auto-Hindu. Otomatis pindah agama menjadi Hindu...lha koq gampang banget pindah-pindah agama...sampeyan sehat lek ?
Dalam Selamatan Orang Jawa, yang berupa Tumpeng untuk melambangkan Pancer, bahkan selalu didampingi dengan empat(4) tumpeng kecil menggambarkan Sedulur Papat, sebagai penghormatan saudara empat kita. Sayangnya ya itu justru ada yang mengatakan, wah itu syirik. Padahal sama sekali bukan syirik, karena acara tumpengan ini bukan untuk menyembah berhala, akan tetapi sebagai bentuk rasa hormat kita kepada saudara kita yang menyertai kita sejak berada didalam kegelapan Rahim Ibu. Dan bukan juga merupakan salah satu ritual pembaiatan sampeyan untuk masuk agama tertentu (Hindu, kalo menurut ustadz siapa gitu...maaf saya gak kenal). Sedulur papat (saudara empat) ini akan terus menemani hidup kita didalam pejalanan hidup kita di dunia fana ini (Bebrayan Agung) sampai kelak kematian menjemput kita
Sekali lagi, bagi orang Jawa, tumpengan dan acara slametan (yang merupakan tradisi turun-temurun) itu dilakukan semata-mata karena sedang meruwat, merawat dan menghormati Sedulur Papat ini. Atas bantuan dan pendampingan Sedulur Papat ini sang Jabang Bayi bisa lahir dengan selamat tanpa kekurangan, maka Sedulur Papat ini kemudian dianggap 'pamomong' atau penjaga manusia.

Setelah Jabang bayi lahir dengan selamat, saudara kita (sedulur papat) ini berubah menjadi Saudara Gaib yang menyebar ke empat Penjuru Mata Angin ke Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pancer (diri sejati) berperan sebagai Pengendali Kesadaran.
Setelah masuk dan berkembangnya pengaruh Islam di Nusantara, perngertian Sedulur Papat Kalimo Pancer ini kemudian berkembang dan diberi pengertian baru sebagai 4 Nafsu, Nafsu Amarah (Merah, keinginan mempertahankan harga diri, emosi, dipengaruhi sifat api yang panas), Nafsu Sufiyah (Hitam, keinginan untuk dipuji, angkara murka, dipengaruhi sifat udara sebagai unsur pembentuk jasad), Nafsu Aluamah (Kuning, Pepinginan, Birahi, dipengaruhi unsur tanah), dan Nafsu Mutmainah (Putih, nafsu yang mengajak pada kebaikan, Kesucian dipengaruhi unsur air). Mereka semuanya kita perlukan dalam hidup ini akan tetapi ingat bahwa, mereka ini memiliki daya rusak yg hebat.

Mengingat daya rusak yang bisa ditimbulkan karena 'sedulur papat' ini, maka dari itu harus dapat dikendalikan oleh unsur kelima : Pancer. Pancer ini sendiripun banyak pengartiannya. Ada yang mengatakan Nur Muhammad, ada yang mengartikan sebagai Guru Sejati, ada yang menyebut ; 'roso jati sejatining roso' (rasa sejati, sejatinya ras). Apabila Pancer (Hati Nurani) tidak berdiri kokoh, maka Sang Diri justru akan terbawa oleh kemauan hawa nafsu saudara-saudara kita itu yang dapat mencelakakan hidup kita.

Didalam lakon pewayangan ada lakon yang menceritakan sebelum Raden Wibisana moksa, sedulur papat ini digambarkan sebagai empat raksasa buas yang harus diruwat dipisahkan terlebih dahulu sebelum beliau akhirnya bisa moksa.

Dari pengartian yang panjang lebar diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa 'Sedulur papat Kalimo Pancer' adalah merupakan nafsu 'gawan bayi' yang harus senantiasa dirawat, diatur dan diseimbangkan dan harus berjalan dibawah kendali akal dan hati nurani. Secara pemaknaan komprehensifnya, budaya tentang Sedulur Papat Kalimo Pancer ini sangat mengakui dan berusaha menyelaraskan diri kita masing-masing (mikrokosmos) sebagai bagian dari jagad yang lebih besar (makrokosmos).

Terlepas apapun agama-nya....saya rasa sebagai orang Jawa yang masih Njawani, mestinya sih tetap memegang ajaran budaya yang turun temurun ini. Soal kemudian ada yang bilang musryik atau bid'ah....lha kalo ari-ari gak diurus dan dikubur terus dibuang aja gitu...seperti sampeyan buang sampah sembarangan seperti orang yang tak berbudaya.

Load disqus comments

0 Comments