'NATALAN/DECEMBER', Sebuah Film Pendek Untuk Menyentuh Feel Para Perantau Yang Lupa Untuk Pulang

Desember dan Natalan adalah 2 hal yang sudah amat sangat melekat, terutama bagi para pemeluk Kristen dan Katolik. Mungkin kalo di dunia barat sana akan dipenuhi dengan film-film Mitos tentang Sinterklas (Santa Claus) dan film keluarga dengan cerita keajaiban Natal, beda dengan di sini, di Indonesia, yang mungkin tidak ada film-film tentang Natal seperti di dunia barat sana.


Nah, ini satu rekomendasi saya...sebuah film pendek bergenre drama keluarga yang di sutradarai oleh Sidharta Tata (2015), akan terasa amat sangat mewakili orang-orang seperti saya yang perantauan dan jarang pulang kampung. 'Wis lebaran ora mulih...Natalan yo ora mulih...njur mulihmu kapan son ?' Begitu seringkali kawan-kawan masa kecil saya kalo dengar jawaban saya pas mereka tanya 'Kowe mudik ora son ?'. Film ini pendek koq durasinya cuma 28 menit'an tapi bisa mak jleb rasanya...banyak yang (katanya) tersentuh setelah nonton film ini.

Film ini dibuka dengan adegan Smartphone yang berdering di dalam mobil, tampak di screen-nya bertuliskan 'Rumah Jogja'. Saat menonton film ini, awalnya saya menerka-nerka jalan ceritanya akan seperti apa, apa yang terjadi dengan tokoh Resnu (diperankan oleh Ramon Y. Tungka) dan Dinda (diperankan Clara Soetedja). Sepanjang film ini, pasangan tokoh ini lebih banyak berada didalam mobil, dan tebakan saya mereka sedang dalam perjalanan dari Jakarta ke Jogja, untuk merayakan Natal bersama keluarga. Mereka jarang berbicara satu sama lain, hanya Resnu yang terlihat lelah, mengantuk dan kesal. Tokoh Resnu ini jarang sekali berbicara, seakan menyimpan kekesalan dalam sikap diamnya, sedangkan tokoh Dinda (yang ternyata istrinya) justru lebih banyak berbicara sekalipun hanya lewat telphone.

Tokoh ketiga adalah seorang Ibu, Ibunya Resnu (diperankan oleh Mien Brodjo). Jika tokoh Resnu dan Dinda lebih banyak scene di perjalanan, tokoh Ibunya Resnu ini lebih banyak di rumah mempersiapkan masakan untuk menyambut kepulangan putra semata wayangnya, menantu dan cucunya. Sesekali si Ibu berusaha menelpon untuk sekedar menanyakan kabar perjalanan keluarga putranya itu sudah sampai dimana, lancar atau macet, tapi sayangnya telepon itu tidak pernah di respon oleh Resnu, putranya. Si ibu tersebut masih mencoba berpikiran positif, mungkin anaknya sedang sibuk menyetir sehingga tidak bisa mengangkat telepon. Lalu ibu itupun melanjutkan aktivitasnya, berbelanja dan memasak makanan kesukaan putranya sambil mempersiapkan menyambut kedatangan keluarga putranya untuk Natalan bersama-sama.
Melihat adegan si ibu ini, saya langsung terbayang betapa sedihnya ibu saya ketika saya yang di luar kota terlalu sibuk dengan urusan sendiri dan tidak mengangkat telponnya. Dalam adegan tersebut, film ini berhasil menyindir para penonton yang perantau (seperti saya) yang seringkali lupa pada orang tua mereka di kampung halaman.
Komentar Para Viewers Yang Tersindir - dok. SC Youtube
Sampai pertengahan film ini, saya masih belum bisa menebak akhir ceritanya. Saya pikir tadinya ini film pendek yang simpel yang berujung pada Happy Ending, si ibu bertemu dan berkumpul Natalan bersama keluarga putra semata wayangnya, walaupun harus melalui penantian yang panjang dan lambat. Ternyata banyak plot twist di akhir cerita sehingga membuat keterikatan emosi antara kita sebagai penonton dengan sosok si Ibu dan kesedihan yang dirasakan si Ibu-pun ikut menular pada kita, penontonnya.

Banyak faktor yang menunjang film ini cukup sukses memainkan emosi penontonnya. Selain Alur cerita, akting para pemainnya, properti pendukung serta lagu latar yang cukup bisa mengikat penonton dalam ikatan emosi sedih, kangen, dan rasa bersalah. Apalagi ketika adegan makan malam yang membandingkan dua meja makan dengan keadaan yang sangat kontras bertolak belakang. Tidak hanya adegan-adegannya, lagu-lagu serta dialog dalam film ini sangat menyentuh dan membuat penonton terbawa dalam suasana malam Natal dan alur cerita Natalan yang seringkali plek ketiplek dengan yang terjadi secara nyata diantara para penontonnya yang perantau.

"Hallo, wis tekan ngendi koq ora tekan-tekan tho ?"
(Hallo, sudah sampai dimana koq gak sampe-sampe tho?) 
" Bu....anu bu...ketingale dinten niki kulo mboten saget wangsul........"
(Bu....anu bu....kelihatannya hari ini saya gak bisa pulang....) 
"Yo wis...ra po po aku yo durung cepak-cepak opo-opo koq....Sugeng Natal nggo kabeh...Berkah Dalem"
(Ya sudah...gak apa-apa, ibu ya belum menyediakan apa-apa koq.... Selamat Natal buat semuanya....Tuhan memberkati) 

Selamat (merencanakan) Pulang ke Kampung Halaman....
Janjian bertemu orang tua...bapak dan ibu, kakek dan nenek...mumpung masih diberi kesempatan untuk mengunjungi dan bertemu orang tua.
Kalau tidak sekarang...kapan lagi...selagi orang tua masih diberi kesehatan dan masih 'ada'.
Orang tua tidak pernah (selalu) minta untuk diberi uang bonus'an, uang gajian atau uang THR sampeyan. Anaknya bisa datang berkunjung aja udah senangnya bukan main.

Nah...Selamat Menonton


Selamat (merencanakan) Merayakan Natal bersama keluarga....
Welcome December....
Load disqus comments

0 Comments