Mengakarkan Pemahaman | Ojo Pedhot Oyot


Tahu gak sampeyan kalo di Gereja Katolik itu dalam setahun ada 16 Hari Raya....
Termasuk hari ini nih (tanggal 14 Juni, hari pas saya bikin status ini di FaceBook) adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Awalnya saya tulis ini karena saya merasa ya gimana gitu...setelah banyak yang cuma ngributin beberapa hal berikut ini seperti misalnya;
Kapan tempat ibadah (gereja) boleh dibuka...?
Kapan bisa ibadah normal...?
Kapan bisa terima komuni lagi ?

Dan jawabannya... Nanti (entah kapan )

Nanti setelah situasi Pandemi ini dirasa aman dan pastinya dengan penerapan Protokol Standar Covid-19 yang sangat ketat. Seperti misalnya harus pakai masker (terus gimana nyanyinya ya ?), tidak boleh duduk merapat dan berdempet-dempetan, atau mungkin sebaris di bikin zigzag tidak bershaf-shaf gitu...entahlah nanti bagaimana...tunggu aja pengumuman resmi dari KWI.

Sementara ini berikut adalah arahan Ketua KWI Pusat, Bapak Mgr. Ignatius Suharyo


Kembali ke cerita soal Hari Raya...
Dalam tradisi Katolik, pas Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini biasanya akan disertai dengan acara Terima Komuni Pertama bagi mereka yang pertama kali akan menerima Komuni. Dalam hal terima komuni (yang diyakini sebagai Tubuh Kristus), seorang Katolik yang sudah dibaptis secara Katolik, tidak begitu saja bisa langsung menerima Komuni.

Setidaknya seorang Katolik harus mematuhi aturan hukum Kanonik (KHK 913 § 1), yang menyebutkan 'Agar Ekaristi Mahakudus dapat diterimakan kepada anak-anak, dituntut bahwa mereka memiliki pemahaman cukup dan telah dipersiapkan dengan seksama, sehingga dapat memahami misteri Kristus sesuai dengan daya tangkap mereka dan mampu menyambut Tubuh Tuhan dengan iman dan khidmat'. Disini kemudian akan dibutuhkan effort (usaha dan niat) karena sebelum bisa terima Komuni ini, seorang Katolik harus belajar atau pendalaman tentang Katolik lagi, mendalami iman Katoliknya dan melakukan pertobatan (menerima sakramen tobat).

Nah, kebayang dong setelah anak-anak atau seorang Katolik yang sudah berlama-lama belajar lagi agar bisa ikut Terima Komuni....eh ternyata jadi malah terhalang karena Pandemi ini. Tapi jangan sedih, masih ada yang lebih kurang beruntung, yaitu mereka yang harusnya Terima Pembaptisan pas Paskah kemarin. Mereka ini sudah belajar selama 1 tahun dan tidak boleh bolos pelajarannya 'hanya' agar bisa dibaptis secara Katolik. Mau terima Komuni...belajar lagi. Mau Nikah...belajar lagi, kursus lagi.
Bagaimana coba ? Makanya jadi Katolik itu berat...apa sampeyan masih yakin mau jadi orang Katolik ?

Mungkin berangkat dari rasa kerinduan orang Katolik dalam menerima Komuni ini yang kemudian memicu pertanyaan tentang Kapan boleh ikut ibadah di gereja. Karena selama Pandemi dan hanya beribadah di rumah secara online berarti kita (kami) umat Katolik ini tidak bisa juga menerima Komuni yang dalam hal ini diyakini sebagai pengejawantahan kehadiran Kristus di tengah umatnya.
Yang sabar ya gaes...semua ini hanya ujian...

Sementara belum bisa terima komuni secara fisik, kita terima Komuni Spiritual aja dulu ya...
 
Sing Penting Yakin dan Percaya....

Kalo mengutip khotbah seorang Romo, gereja itu haruslah menjadi jalan keselamatan bagi semua orang...semua orang lho ya, bukan hanya orang Katolik saja.
Nah, karena orang Katolik juga bertemu, berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas, yang berbeda keyakinan, berbeda perilaku keseharian maka jangan sampai karena gereja di buka....boleh beribadah (new) normal tapi kemudian malah gereja menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Makanya yang sabar...tetap yakin dan percaya...
Justru pertanyaannya kemudian, duluuuu jaman masih bebas ke gereja setiap hari...setiap minggu....sepanjang tahun, berapa kali sampeyan ke gereja...?
Setiap hari... 
Setiap minggu.... 
Setiap Hari Raya....
atau cuma Setaun sekali...itu aja nunggu ada yg ngajak...

Koq baru ribut dan ribet sekarang setelah mesti ibadah di rumah. Kan malah enak ibadah di rumah bisa bareng-bareng sekeluarga. Mungkin dengan adanya Pandemi ini, kita sebagai orang Katolik jadi bisa membangun gereja-gereja kecil di rumah masing-masing.
Bukan bangunan Gereja dalam bentuk fisik lho ya....nanti bisa di demo golongan yang kurang berkenan kalo sampeyan bangun gereja di rumah sampeyan. Gereja di sini adalah gereja kecil...gereja spiritual tempat Allah hidup dan berkarya untuk keselamatan manusia...di dalam dan melalui masing-masing anggota keluarga. Seperti di katakan dalam Konsili Vatikan II yang menamakan keluarga sebagai Ecclesia Domestica.

Soal sah ato tidaknya ibadah sampeyan ya biar Tuhan yg nilai....
Emang sampeyan malaekat yg bisa tahu penilaian sah atau tidaknya ibadah sampeyan....
.
Udah gitu aja....
Sing Penting Yakin dan Percaya....Bad day pasti berlalu
Load disqus comments

0 Comments