Abang Driver Ojol....You Never Walk (Drive) Alone

Beberapa saat sebelum pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang ditetapkan pemerintah dalam membendung laju penularan virus Covid-19, di dunia maya banyak bersliweran video-video Babang Driver Ojek Online (Grab & Gojek) yang isinya mengeluhkan kebijakan bantuan, baik bantuan yang rencananya diberikan oleh pemerintah atau bantuan dari perusahaan Ojol itu sendiri. Tidak sedikit Babang Ojol yang berkeluh kesah dengan santun seperti "Saya enggak minta dibayarin kontrakan, cicilan. Tapi selama dua minggu ini, kami butuh makan untuk keluarga" kata mas Ginanjar dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) 24 Maret 2020. Atau bahkan kalimat-kalimat mengancam seperti "Orang kalau sudah bicara perut, bisa nekat....pikirin pakai otak...dst...dst...dst"
Yang Terlihat Dari Gunung Es 'Kasihan Ojol' - dok. Berbagai Sumber
Diawal masa penerapan Social Distancing yang rencana awalnya cuma 14 hari memang yang terasa paling terdampak adalah kaum menengah kebawah yang pendapatannya harian. Seperti kuli cangkul, abang-abang tukang balon, tukang es krim dua ribuan yang pakai sepeda, para polisi cepek, tukang parkir mart-mart atau abang ojol yang omsetnya menurun karena banyak kantor yang menerapkan Work From Home.
Tak lama para pemburu berita, dari hampir semua stasiun TV kemudian beramai-ramai mewawancarai para abang ojol yang memang paling mudah ditemui. Biasanya mereka ini memarkirkan motornya lalu ngeriung di dekat resto fast food menunggu ada order yang masuk. Hasil wawancaranya, ya masih seputaran kehidupan mereka yang makin terjepit oleh kesempatan yang semakin sempit. Lalu muncullah para penggalang dana atau orang-orang yang tergerak hatinya seperti Nikita Mirzani, yang belakangan kemudian jadi emosi karena kantornya jadi di geruduk abang ojol yang 'minta sumbangan'.

Nah, beberapa waktu lalu saya dapat cerita ini di WAG Group alumni yang saya ikuti. Jadi ceritanya ada seseorang yang berhasil mengumpulkan donasi yang kemudian biar sumbangan (paket kebutuhan pokok) bisa sampai di tangan kaum golek lemah (golongan ekonomi lemah) yang membutuhkan, dia kemudian bergerilya untuk memberikan langsung paket bantuan yang berhasil dikoordinirnya.
Apa yang dia temukan ? Ternyata dengan banyaknya orang yang bergerak berdonasi, kaum golek lemah ini kemudian malah jadi berlebih stok-nya. Yang dapat sumbangan dari Mushola, dari Mesjid, dari Gereja, dari Yayasan Umat Budha dan dari yang lain-lainnya.

Akhirnya si penulis cerita ini kemudian berpikir ulang bagaimana caranya agar paket-paket sembako itu sampai ke tangan yang tepat dan benar-benar membutuhkan, yang saat seperti sekarang ini sedang mengalami masa sulit akibat kehilangan/berkurang pendapatannya. Lalu dia pakai cara posting status WA: (kurang lebih isinya seperti ini) Teman-teman sekalian, bagi yang benar-benar membutuhkan, jangan sungkan WA saya, tak perlu sungkan dan malu karena nanti akan saya antarkan paket sembako, diam-diam disaat sepi lalu saya letakkan di pagar...sehingga sampeyan tidak perlu merasa kehilangan harga diri karena sudah dibantu.

Dan reaksinya....ternyata buaaaannnyyyyaaaakkk yang mereka seperti terlihat baik-baik saja kemudian dengan menekan harga diri, memberanikan meminta. Beberapa dari tulisan dan chat-nya saya tuliskan kembali disini dengan diedit disana-sini ya....kurang lebih seperti ini

"Suamiku kan kerja dibengkel, sekarang tutup sementara gajinya hanya 500 ribu. Selama ini dia bisa bawa pulang 4 - 5juta perbulan karena kalau dibengkel kan dibayar atas berapa banyak service yang dia kerjakan. Kami gak punya banyak tabungan, sisa uang saat ini paling bisa bertahan 2 - 3 minggu kedepan" kata ibu A.

"Boleh deh buat saya sepaket, kantor saya tutup. Gaji sih masih ditransfer 2 juta'an, karena sebagai marketing dealer yang gede kan kalo ada bonus penjualan...sementara sekarang gak ada event-event penjualan dan mall banyak yang tutup. Gaji 2juta buat beli token listrik dan buat cicilan rumah aja masih kurang, apalagi buat bayar sekolah...padahal sekolah libur tapi bayarannya kan gak ikut libur" kata si B.

"Istri saya ngajar bimbel, kalo pagi saya antar jemput anak sekolah. Maret kemarin sih masih dibayar full walaupun kemarin cuma ngajar seminggu trus abis itu sekolah libur. Nah, per April ini kan full libur sekolah jadi bimbel libur...antar jemput juga libur....jadi praktis bulan April atau bulan Mei nanti mungkin tidak akan ada pemasukan lagi...boleh gak saya ikutan daftar" kata si C

"Boleh ya untuk aku sepaket. Aku dan istriku gak bisa dagang lagi, karena kantin sekolah dan kantin kantor - kantor yang biasanya aku isi kue-kue buatannku tutup. Kemarin-kemarin ada 10 kantin sekolah yang rutin aku drop masakan. Ada juga katering buat kantor....tapi semua tutup sekarang. Warung-warung sepi...mana sebentar lagi puasa....Aku sih masih ngerjain kalo ada orderan dari tetangga, tapi itu juga gak sampe 10 persen dari biasanya" kata pak D

"Aku mau dong sepaket....udah 3 minggu usaha rental mobil-ku sepi. Gak ada satupun yang nyewa mobil karena orang-orang Stay at Home katanya...rental PS juga sepi dan harus tutup kan...karena gak boleh ada anak-anak kumpul-kumpul main game, tabungan yang ada sudah kepake buat kasih karyawan pesangon karena sementara kan mesti di rumah dulu....bingung juga mau usaha apa sekarang" kata bung E

Secara umum dan dalam kondisi normal, mereka ini akan terlihat baik-baik saja...atau mungkin terlihat cukup berkecukupan. Tapi dengan kondisi yang seperti sekarang ini dampak ekonominya sudah meluas. Tidak hanya Babang Ojol saja yang teriak gak bisa makan. Mana listrik untuk kaum menengah ini (yang rata-rata berdaya 1300) tidak ada subsidi atau pengurangan sama sekali, karena dianggap mereka mampu. Belum anak-anak mereka rata-rata bersekolah di swasta yang notabene  bayarannya tentu saja tetap jalan meski anak-anaknya belajar dari rumah.

Kaum Menengah ini biasanya jarang dicolek atau masuk daftar list bantuan, karena para donatur atau pemerintah biasanya hanya melihat mereka yang terlihat lemah, kecil dan terpinggirkan. Jadi kalau ada sesuatu hal yang berdampak ekonomi, pastilah yang ekonomi dibawah rata-rata yang lebih didahulukan. Padahal kaum menengah ini seringkali juga punya tanggungan membiayai orang tua/mertua dan saudara-saudaranya yang sedikit kurang beruntung, seperti biaya sekolah adik atau keponakannya. Belum anjuran pola makan yang harus bergizi untuk tetap menjaga imunitas tubuh agar terhindar dari paparan virus Covid-19...yang kalau dijabarkan lagi bagaimana bisa memenuhi kebutuhan gizi jika tukang sayur yang biasa lewat depan rumah atau mpok-mpok sayur yang biasa jualan di pengkolan gang tutup dan gak jualan, sementara untuk jalan ke pasar jadi gamang karena mbayangin mesti dempet-dempetan dan senggol-senggolan dengan orang lain yang kita tidak pernah tau dia itu Orang Tanpa Gejala (OTG) atau sehat.

Saya menulis ini, karena saya juga menjadi bagian dari orang-orang yang merasakan dampaknya. Ketika satu persatu peluang untuk menambah penghasilan mulai tertutup....ketika cicilan-cicilan yang katanya bisa di restrukturisasi tapi kenyataannya tagihan tetap datang sesuai waktu terjadwal...dan ketika-ketika yang lain yang kadang membuat otak buntu dan tidak bisa mendapat ide menuliskan sesuatu yang cemerlang.

Saya sih berharap banyak yang membaca artikel ini sampai habis...agar siapapun yang membaca tulisan ini bisa menjadi lebih peka terhadap mereka yang ada di sekitar kita. Jadi kalau ada teman, tetangga atau saudara yang mencoba menawarkan apa saja...menjual apa saja....belilah dagangan mereka, meski mungkin kita gak butuh-butuh banget. Itupun dengan catatan tetap menerapkan prinsip hidup hemat ya. Yang artinya walaupun kita sedang berhemat, sedikit memberi itu tidak akan pernah membuat kita rugi....percaya deh. Karena bisa jadi apa yang sudah kita lakukan dengan membeli dagangan yang ditawarkan teman, saudara atau tetangga kita adalah satu langkah kita mambantu mereka agar ekonomi mereka sedikit membaik.

Walaupun kita sama-sama susah....jangan hanya mengeluh, menyerah dan pasrah
Ada pepatah dalam bahasa Jepang seperti ini :

Anata wa nani ga okotte mo, akiramerubekide wa arimasen. Watashi wa, anata ga orite kuru node wanaku noboru tame no dōgu to shite anata ni nani ga okotte mo sore o tsukaubekidesu

あなたは何が起こっても、あきらめるべきではありません。 私は、あなたが降りてくるのではなく昇るための道具としてあなたに何が起こってもそれを使うべきです

Yang artinya kurang lebih :
Apapun yang terjadi, jangan menyerah. Saya harus menggunakannya, apapun yang terjadi sebagai alat untuk naik mendaki bukan turun 

Optimis...berdoa...Yakin dan Percaya....Badday pasti berlalu
Load disqus comments

0 Comments