Till Death Do Us Part | Semesta Yang Mempertemukan


A great marriage is not when the 'perfect couple' comes together. It is when 'imperfect couple' learns to enjoy their differences - Dave Meuer

Menikah itu bukanlah garis finish dari Sepenggal Kisah Percintaan yang syahdu, menggebu nan mendayu-dayu. Pun bukan merupakan Sebentuk Trophy yang bisa selalu dipamerkan pada teman-teman dan handai taulan dengan penuh kebanggaan atas kemenangan sambil menepuk dada 'ini aku yang berhasil memiliki-mu', yang lalu disimpan dalam lemari agar tidak berdebu.

Menikah itu adalah bagian perjuangan kehidupan, yang saat berjuangnya dimulai ketika sampeyan, saya dan siapa saja yang sudah menikah, bertemu dengan seseorang (yang katanya) belahan jiwa. Perjuangan ini tidak akan pernah berakhir 'till death do us part'...hingga ajal memisahkan

Menikah itu harus diperjuangkan dan memperjuangkan....karena bahkan untuk bisa menikmati semangkuk mie instan dan secangkir kopi special mix aja akan selalu ada harga-harga yang harus dibayar, apalagi menikah...ya tho.

Tulisan saya kali ini hanya merupakan catatan dari cerita perjalanan kala Semesta Mempertemukan kami hingga saat ini dan nanti....

Kenalan

Pada saat acara lamaran dulu saya ditanya bagaimana ceritanya saya bertemu istri saya. 
Kalau pertanyaannya kapan pertama bertemu, begini ceritanya.....saat itu saya COD'an untuk orderan Kue Kering 'Oma Cookies' (yang saat itu belum dipasang brand Oma Cookies). 
Tapi kalau ditanya bagaimana mulai kenalan sampai kemudian ada order kue itu....ya ceritanya ketemu begitu saja....

Semesta yang mempertemukan. 
Kami bertemu melalui sebuah aplikasi pertemanan secara online Mei 2017...ngobrol via chat tentang segala hal...ya biasalah namanya juga baru kenalan. Tanya nama lengkap, rumahnya dimana, terus apa kesibukannya....ya cerita-cerita galagasi ngalor ngidul tentang apa aja gitu deh...termasuk kemudian tukar info akun facebook dan nomor whatsapp.

Lanjutlah kontak-kontakan via Whatsapp...

Sebulan setelah hanya berkontak dan ngobrol secara online, setelah 'add friend' di Facebook saya baru tahu kalau istri saya berjualan kue kering Oma Cookies itu. Nah, karena saya tuh orangnya suka cari-cari peluang usaha sampingan (maklum bro....gaji saya tuh cuma UMK dan gak naik-naik dari 2015), makanya barang apa saja yang sekiranya bisa ditawarkan ya saya coba olah jadi dagangan.
Singkat cerita, saya pesanlah kue kering itu....ceritanya ya buat dijual lagi waktu itu. Order deal, kue kering ready, terjadilah cerita COD itu.
Jadi kami ketemu dan tatap muka pertama kali ya pas ambil orderan kue.
Ini Cerita Kue Kering-nya - dok. Pribadi

Berteman dan Melangkah ke Depan

Dari temen jadi demen....mungkin kalo dibikin cerita FTV ya itu judulnya...hehehehe. Dari kenalan terus beberapa kali ketemuan, walaupun untuk urusan COD-an jual beli kue....akhirnya kami berteman. Setidaknya jadi teman pergi ke gereja bareng.

Awalnya kami selalu janjian mau ikut ibadah yang jam berapa dan di gereja mana...lalu berangkat masing-masing dari rumah masing-masing dan ketemuannya pas ibadah mau mulai. Lalu selesai ibadah, cari sarapan baru pulangnya saya antarkan.

Begitu berulang-ulang sampai kemudian saya berpikir lebih baik saya yang jemput ke rumah istri saya...eh baru mau calon ding....berangkat bareng, ibadah bareng trus pulang bareng....biar gak saling mencari pas ibadah mau mulai. Repot kalo sampainya di gereja mepet-mepet.

Dari berteman, terus ke gereja bareng.... ngopi bareng ya terus jadian deh....
Rumah Makan Monggo Moro Weleri

Setidaknya sampai disini saya merasa Tuhan mendengar dan memberikan jawaban atas doa-doa saya. Saya dulu sering berdoa dan memohon diberikan teman pendamping yang seiman dan segereja. Setelah saya pernah terjebak dalam hubungan yang toxic dan gagal, cerita ini pernah saya ceritakan disini....dan sampai pada titik yang tidak jelas dalam pergumulan iman saya.

Dan untuk kembali melangkah menata hidup yang porak poranda, saya harus mengambil sikap untuk menutup pintu yang sebelumnya agar bisa membuka pintu untuk perjalanan hidup saya setelahnya. Rentetan kisahnya sudah pernah saya tuliskan di artikel Kesempatan Kedua dan artikel Satu Langkah Awal, dengan segala konsekwensi pilihan yang harus saya jalani dan hadapi.


Istri saya (masih gebetan waktu itu) tahu cerita masa lalu saya, dan pada saat kami sudah mulai berbicara serius tentang langkah kami ke depan, saya bilang 'beri saya waktu 1 tahun untuk menyelesaikan masalah saya....'
Sepanjang tahun 2018 saya berproses untuk menyelesaikan masalah saya...tidak mudah...karena saya melakukannya sendiri. Dari mencari info, prosedur yang harus dijalani, menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan sampai akhirnya...selesai semua. Agustus 2018, jadi bulan kemerdekaan bagi saya....hehehehe. 

Kalo ada yang tanya dan ingin tahu bagaimana proses penyelesaiannya, apa saja yang saya telah kerjakan dan kendalanya, silahkan dibaca disini dan disini.

Selesai urusan masa lalu, bulan November 2018 saya ajak istri saya (a.k.a calon istri) untuk ikut Kursus Persiapan Perkawinan, sekarang nama kursusnya jadi Membangun Rumah Tangga. Tentang Kursus ini saya ceritakan nanti di artikel-artikel berikutnya.

Lamaran dan Persiapan.

Perlahan kami terus berproses dan melangkah semakin ke depan, hingga bulan Februari 2019 saya memberanikan diri membawa orang tua saya ke Bekasi untuk 'nembung' (meminta). Pinangan diterima, tanggal hari H ditentukan kemudian lanjut dengan persiapan-persiapan.
Lamaran - dok. Pribadi

Kami bukan orang-orang yang kelebihan materi atau punya anggaran yang sudah ditabung jauh-jauh hari untuk rencana pernikahan kami. Sehingga dengan anggaran dana yang terbatas...fix...kami tidak mampu menyewa jasa Wedding Organizer untuk pernikahan kami.

Tanpa jasa Wedding Organizer, praktis kami yang harus berjibaku berdua untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak mengecewakan banyak pihak. 

Pekerjaan pertama, cari tempat dan gedung untuk acara syukuran....bukan acara resepsi yang mewah dan besar seperti pesta pernikahan artis-artis infotaiment. Yang penting niat kami adalah berkumpul dan bersyukur bersama keluarga, teman dan kolega yang jumlahnya tidak seberapa...karena sekali lagi, kami bukan selebgram atau artis ternama yang banyak fans-nya.

Pekerjaan kedua, mengurus kebutuhan surat-surat administrasi kependudukan dari N1, N2, dan N4. Tentang pengurusan dan bentuk suratnya, nanti ya....saya akan ceritakan di artikel selanjutnya.

Pekerjaan ketiga, belanja bahan untuk baju pengantin dan para pengiringnya. Untung waktu itu belum masa pandemi jadi kami bisa langsung cuss belanja bahan di Paser Baru, Jakarta. Bahan didapat, lanjut ke tukang jahit baju pengantin....setelah dapat penjahit yang pas dari segi harga dan model, dimulailah proses pengerjaan baju pengantin untuk istri saya. Terus baju untuk saya, karena kami konsepnya bukan dalam bentuk pernikahan adat dengan kostum yang ribet, jadi ya beli jas yang sudah jadi aja di Departement Store...hehehehe

Pekerjaan keempat, searching undangan, belanja souvenir, bunga untuk dekorasi gereja, tukang foto + video dan tukang rias.
Souvenir Pernikahan - dok. Pribadi

Untuk undangan (undangan cetak dan undangan video) kami pesan secara online, karena undangannya juga gak cetak banyak cuma 100 undangan, jadi bisa cepat selesainya.
Tukang Foto + Video cinematografi, saya pakai jasa teman yang biasa jadi fotografer pernikahan....walaupun endingnya sedikit mengecewakan, karena videonya gak jadi akibat dari hilangnya file sebelum sempat diedit....kurang profesional-lah pokoknya.
Untuk bunga dan dekorasi, kami searching tukang kembang dan dekorasi di sekitaran Kalimalang, Bekasi...pilih bunga sendiri dan sedikit request untuk warna dan macamnya...sesuai bugjet.
Belanja Kembang Dekorasi di Kalimalang - dok. Pribadi

Pekerjaan kelima, memastikan kesiapan para petugas untuk acara pernikahan di gereja. Dari lektor, team paduan suara sampai penata laksananya....gak mungkin kan nantinya kami yang sibuk sendiri mengatur jalannya prosesi pernikahan...
Untuk petugas Lektor, kami minta si Ian, keponakan saya yang biasa menjadi lektor.
Petugas Koor, tadinya rencananya kami minta tolong ke Paduan Suara KKMK St. Arnorldus, tapi ternyata jadwalnya bentrok dengan kegiatan internal KKMK. Puji Tuhan, di hari-hari terakhir, TKA Choir St. Arnoldus bersedia ngebut latihan dan mau membantu kami.
TKA Choir St. Arnoldus in Action - dok. Pribadi
Ini rekaman suara sesi latihan TKA Choir St. Arnoldus Jansen, Bekasi

Pekerjaan ke enam, memastikan jadwal petugas urusan catatan sipil...tentang kesiapannya untuk melakukan pencatatan sipil di gereja setelah sakramen perkawinan secara Katolik selesai.
Untuk petugas Catatan Sipil, kami harus bolak-balik ke Kantor Catatan Sipil agar ada petugas yang bisa dijadwalkan untuk melakukan pencatatan sipil di gereja langsung setelah acara gereja. Kenapa harus diusahakan pencatatan sipil sekaligus setelah pemberkatan, ya karena kalo pencatatan sipil dilakukan nanti nanti di kantor catatan sipil, sampeyan harus kembali membawa orang tua (wali) dan saksi-saksi ke Kantor Catatan Sipil untuk prosedur pencatatannya.
Dan beruntungnya kami, ada petugas Catatan Sipil yang bisa datang ke gereja pas hari H pernikahan....jadi nantinya semuanya bisa langsung beres prosesnya...sah secara agama dan secara negara.

Oh iya, jangan lupa syarat-syarat dokumen gerejanya ya....terus hubungi Romo yang mau menikahkan, minta di periksa buku panduan misa-nya...sudah sesuai belum dengan susunan Liturgi-nya. Untuk buku panduan misa, kami juga susun sendiri berdasarkan contoh buku liturgi Sakramen Pernikahan yang banyak bisa di browsing online.
Kalau sampeyan bingung nyarinya, sampeyan bisa nyontek template buku panduan kami, ada di link berikut ini...

Sudah persiapannya ?
Belum....kalo diceritakan mah panjang ceritanya...bisa jadi artikel bersambung ntar.

Di beberapa artikel sebelumnya saya sudah menceritakan sedikit saat kami beruntung bisa melakukan foto-foto Prewed di Bali....untung ada Sponsor yang mensponsori kami untuk foto-foto di Bali. Cerita pas di Bali terbagi di beberapa artikel seperti Mendadak Prewed di Pura Ulun Danu, lalu kami diingatkan soal Poligami dalam cerita Desa Penglipuran dan artikel tentang rasa syukur di cerita Meletakkan Canang (Sesaji)
Ceritanya ini Foto Prewed - dok. Pribadi

God is Good....karena walaupun tidak ada mudah, semua proses yang kami lalui seperti kebetulan-kebetulan yang membuat kami akan selalu bersyukur mengingat cerita perjalanan kami ini

Lanjut langkah berikutnya...

This is the Day

Waktu terus berjalan menuju hari H. 
Dengan segala persiapan yang grabag grubug kami persiapkan sendiri, akhirnya tibalah saat menunggu orang tua saya dan keluarga dari Weleri tiba di Bekasi. Keluarga saya datang dengan segala cerita kehebohannya sendiri...hehehehe. Sementara kami, (saya dan istri dibantu kakak ipar) masih disibukkan dengan persiapan tahap akhir, ngurus dekorasi gereja...kemudian urus dekorasi Resto tempat acara kumpul keluarga....jadi ya mungkin saat itu kami belum bisa menjamu semua keluarga dengan semestinya.

Pesan Moralnya adalah, kalau sampeyan tidak punya team huru hara atau panitia seksi sibuk, sangat tidak dianjurkan untuk melakukan sendiri persiapan pernikahan sampeyan. Sebaiknya bentuk team kecil dari teman-teman yang bisa membantu atau malah sekalian pakai jasa Wedding Organizer sehingga sampeyan bisa terima beres semuanya.

Karena ya itu...sampeyan tidak akan bisa menjadi Pengantin sekaligus jadi Wedding Organizer-nya , apalagi sampeyan masih amatir di dunia per WO'an....
Dijamin sampeyan bakal pontang panting pusing berdua-dua'an....
Bayangan Kala Itu - dok. Pribadi

Sampai pada waktunya, tanggal 27 Juli 2019 di Gereja St. Albertus Harapan Indah....
Pengucapan Janji Pernikahan - dok. Pribadi
Janji Pernikahan Katolik
Janji Pernikahan kami - dok. Pribadi
Puji Tuhan...dengan segala persiapan yang jauh dari sempurna, setidaknya satu tahapan langkah awal sudah kami lalui. Sebuah Gerbang sudah kami masuki, doakan kami untuk tetap setia menjaga Janji kami...
Terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu saat itu...
Biarlah cerita ini menjadi kenangan terindah yang tersemat diantara perjalanan hidup kami.

Gereja St. Albertus Harapan Indah
Sakramen Perkawinan Katolik
Prosesi Pernikahan Katolik


There will be good times
and there will be bad
But I will stand beside you woman
All the way

And through the years
As life goes on and on
When snow will fall on winter nigths
I'll keep you warm inside
Baby I will

All through your life
I'll be by your side
Till death do us part

Dan untukmu Belahan Jiwa....
Terima kasih untuk tahun-tahun yang luar biasa yang sudah kita lalui bersama.
Happy Wedding Anniversary....
Percaya Tuhan Beserta....
Load disqus comments

0 Comments