Mengurus Surat Pindah Domisili | Pengurusan Administrasi Kependudukan 1 Hari Beres.......(Masih Sebatas) Ngimpiiii

Semangat Perubahan Birokrasi yang rumit, ribet dan pabaliut masih sekedar mimpi di siang hari bolong. Mungkin tidak di semua jalur Birokrasi, artikel saya ini hanya merupakan contoh kasus bahwa pembenahan Birokrasi dan sistem kerja Aparatur Sipil Negara masih terkesan berjalan ditempat dan belum ada perubahan besar yang terjadi....

Ceritanya kali ini saya mau mengurus Surat Pindah Domisili dari Kabupaten ke Kota...

Membuat Surat Keterangan Pindah WNI

Percobaan Pertama

Awalnya setelah browsing dan cari info dari mbah Google, saya pagi-pagi langsung menuju Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi untuk menanyakan dan cari informasi langsung mengenai cara pindah domisili. 
Sebenarnya Pelayanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi sudah dengan baik menjelaskan, bahwa saya harus ke Kecamatan Asal dulu untuk meminta Surat Pengantar terus ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bekasi agar memperoleh Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia (SKPWNI). Setelah itu balik lagi ke Disduk Kota terus untuk bikin KK dan KTP baru nanti diproses di Kecamatan yang akan didatangi. Ditutup dengan kalimat 'Tapi masing-masing daerah beda-beda kebijakannya lho pak jadi coba nanti tanya di Kecamatan asal saja dulu baru ke Disduk Kabupaten'.

Karena saya ngeyel orangnya dan males ngurus urusan administrasi begini, kemudian saya terpikir untuk menghubungi seorang teman yang kebetulan jadi SKPD di Gedung DPRD Kota. Saya pikir siapa tahu dia punya kenalan orang Disduk sehingga saya gak perlu jauh-jauh ke Disduk Kabupaten yang jaraknya 30 km dari Kota Bekasi.

Teman saya bilang ada teman yang biasa ngurus administrasi macem-macem untuk keperluan anggota dewan dan sering bolak-balik ke Disduk bantu ngurus soal Administrasi Kependudukan, dan dipertemukanlah saya dengan temannya teman saya ini. Setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya si temannya teman saya ini bilang, "Sampeyan langsung ke Disduk Kabupaten aja...langsung ke loket minta Surat Keterangan Pindah....bisa koq langsung dokumen KK Fotokopi, Asli dan KTP dibawa kan ? Mumpung masih siang...keburu koq jadi dari Disduk Kabupaten nanti bisa langsung jadi tuh Suket (Surat Keterangan). Tapi ingat itu Suket itu belum bisa langsung sampeyan bawa ke Disduk Kota karena biasanya butuh waktu 1 hari agar data Kependudukan Sampeyan sudah di upload jadi bisa ditarik data di Disduk Kota nantinya".
Mendapat penjelasan begitu ya langsunglah saya cusss....menuju Disduk Kabupaten.

Sampai Disduk saya langsung ke petugas yang di Loket, karena saya sampai di Disduk sekitar jam 13.15 WIB, petugas Loketnya baru standby 1 orang petugas dari 9 Loket yang ada. Dan jawaban dari petugas di Disduk Kabupaten, "Sampeyan udah bawa pengantar dari Desa dan Kecamatan belum ? Kalau belum, minta dulu Surat Pengantar Pindah dari Desa dan Kecamatan terus jangan lupa nanti bawa KK asli-nya ya".
Nah lo....tadi informasi dari temannya teman saya bilang bisa langsung minta dibuatkan Pengantar Pindah di Disduk asal terus ke Disduk tujuan. Ternyata informasi temannya teman saya ini Hoaks saudara-saudara...dan saya sudah jadi korban cerita Hoaks-nya. Ya sudahlah...akhirnya satu hari itu saya gagal menyelesaikan apa-apa karena pas saya coba kejar ke Kantor Kelurahan eh jam 15.00 WIB sudah sepi tuh Kantor Kelurahan...

Jadi Percobaan Pertama Hasilnya........Zonk

Percobaan Kedua

Berbekal pengalaman kejadian Percobaan Pertama, di Percobaan (Hari) Kedua saya kemudian pagi-pagi langsung menuju ke Kelurahan Asal dulu. Setelah harus berputar-putar melalui halang rintang genangan (banjir) air yang masih sporadis belum surut di beberapa tempat, sampailah saya di Kelurahan jam 08.30 WIB. Saya sodorkan fotokopi KK lama (yang mau saya pindahkan) dan fotokopi KK alamat tujuan pindah ke bapak petugas di Kelurahan yang ternyata sudah standby dari jam 08.00 WIB. Lalu langsung dibuatkan Form F.1-33, F.1-35 dan F.1-39.
Form Pengantar Pindah Antar Kabupaten/Kota atau Antar Provinsi - dok. Pribadi
Untuk Form F.1-33 dan F.1-35 nantinya harus ditanda tangan Camat, jadi rute berikutnya adalah Kecamatan Asal. Oh iya jangan lupa ya bawa KK dan KTP asli untuk prosesnya. Dan satu lagi, kalau sekarang tidak perlu lagi minta Surat Pengantar dari RT/RW....langsung Pengantar dari Kelurahan saja cukup.

Sama seperti perjuangan menuju ke Kelurahan, saya harus kembali berjuang mengarungi beberapa titik genangan air yang masih....yah setengah ban motor-lah kira-kira tingginya...
banjir kabupaten bekasi 2020
Genangan bukan Kenangan - dok. Pribadi
Sampai di Kecamatan sekitar jam 10.45 WIB, untung Kecamatan sepi karena di beberapa tempat masih tergenang. "Kemarin malah cuma bertiga pak yang ke Kantor...saya, Pak Camat sama pak Hanafi" begitu cerita Tukang Parkir Kecamatan. Jadi cuma perlu 15 menit, karena tinggal minta tanda tangan dan stempel sudah....selesai Surat Pengantar Pindah dari Kecamatan.

Dengan membawa Form F.1-33, F.1-35, F.1-39, Kartu Keluarga Asli dan Fotokopi serta KTP Asli dan Fotokopi, jam 11.00 WIB saya langsung ngegas menuju Kantor Disduk Kabupaten. Dan sampai di Disduk Kabupaten masih jam istirahat, jam 12.45 WIB, karena Loket Pelayanan masih kosong semua petugasnya, maka saya putuskan untuk bersabar menunggu sambil nyruput kopi.

Sambil ngopi nunggu Loket buka, saya ngobrol dengan yang sama-sama sedang mencoba urus Surat Keterangan Pindah WNI (SKPWNI) juga, mas Imam namanya.
"Saya sudah dari tahun 2018 mas ngurus Surat Pindah....pas itu karena saya gak bisa ijin kerja makanya saya minta tolong orang Kelurahan" begitu mas Imam membuka obrolan.
"Koq bisa selama itu mas? " tanya saya.
"Gak tau masalahnya dimana... Padahal NIK saya sudah berubah jadi NIK DKI karena pas bikin E-KTP saya rekam data di DKI... Tapi pas mau urus BPJS dari kantor koq gak bisa diproses kartu KIS-nya, kata orang Disduk DKI data asal saya masih nyangkut di Kabupaten....terus dianjurkan urus SKPWNI-nya lagi di Kabupaten biar datanya bisa dipindah. Saya telpon orang Kelurahan yg dulu bantu urus eh nope-nya udah gak aktif....padahal dulu ya kita mah tutup mata aja diminta 'uang jasa'Rp 250ribu-an waktu itu, ya saya kasih aja.... Eh malah gak beres kaya begini.... " lanjut mas Imam.
"Makanya mas kalau saya sih mending coba urus sendiri aja biar cepet ketahuan hasilnya.... Dan kalo ada masalah data kan kita cepat bisa follow up mesti harus apa...kurang apa " saya menimpali. Padahal dalam hati saya mbatin 'wong kemarin saya diminta minimal Rp 650ribu kalo pakai tenaga calo....makanya saya bela-belain ijin kerja dan urus sendiri...biar saja gaji dipotong sehari'

Jam 13.15 WIB saya langsung merapat ke loket....berdesakan dg orang yg legalisir KK, mau bikin Akte, mau bikin SKPWNI dan lain-lain.
dinas kependudukan dan catatan sipil kabupaten
Antrian Disduk Kabupaten - dok. Pribadi
Untuk urusan bikin SKPWNI cuma ada 1 loket (setelah loket 9), dengan petugas yang (tidak murah senyum) sibuk bolak-balik keluar masuk ke pintu belakangnya.
Saya langsung tanya "Bu saya mau minta Surat Keterangan Pindah, gimana prosesnya ?"
Si ibu petugas itu balik nanya "Mas punya nomer antrian ? Kalo gak punya balik lagi besok pagi mas, ambil nomer antrian dulu"
"Lah ini kan masih jam 1 lewat bu....dan nomer antrian-nya udah abis dari jam 11 tadi.....trus gak bisa dibantu proses ini" jawab saya ke si ibu petugas yang sedang terima satu bundel Surat Pengantar Pindah dari ibu-ibu disamping saya.
"Saya tolong dibantu ya bu...bisa selesai hari ini kan....saya tunggu deh" kata ibu-ibu disamping saya.
"Terus saya gimana ini bu....gak bisa dibantu juga...yang penting berkas saya diterima dulu deh....sampai sore juga saya tunggu...yang penting bisa diproses hari ini" kata saya mencoba taktik seperti ibu-ibu di samping saya.
"Lihat nanti ya....ini berkas sudah numpuk banget didalam....lihat nanti jam setengah tiga ya" jawab si ibu petugas yang masih tanpa senyum.
Karena cuma 1 berkas dari ibu-ibu disamping saya yang 'dicangking' si ibu petugas, saya coba agak memaksa menyodorkan berkas saya "Ini bu berkas saya gak sekalian bu dibantu....ayolah bu tolong saya....saya cuma bisa ijin gak kerja 1 hari ini bu".
Si ibu petugas agak sewot dan bilang "Iya nanti pak lihat jam setengah tiga....masih bisa diproses gak.....berkasnya pegang aja dulu" terus si ibu putar badan dan menghilang ke pintu kantor belakangnya.

Berkas saya gagal saya sodorkan agar untuk bisa diproses, gantian mas Imam maju dan mencoba peruntungannya. Kepada petugas yg aplusan dengan si ibu tadi, mas Imam menceritakan masalahnya yang data kependudukannya sudah digantung dari 2018. Setelah si bapak petugas klak klik klak klik komputer didepannya, si bapak bilang "Iya mas ini datanya masih nyangkut di database disini....besok pagi kembali lagi ya ambil nomer antrian terus besok coba dibuatkan SKPWNI"
"Gak bisa sekarang juga pak ?" tanya mas Imam. "Saya udah jauh-jauh dari Jakarta Selatan lho ini...karena saya sekarang tinggal disana" lanjut mas Imam.
"Gak bisa pak....besok aja ya balik lagi pagi-pagi kesini" si bapak petugas keukeh gak mau terima juga. Akhirnya mas Imam memutuskan untuk pulang karena mungkin merasa tetap gak bisa ngeyel agar berkasnya bisa langsung diproses.
Saya masih berdiri di depan Loket...nunggu si ibu petugas tadi nongol lagi.

Jam 14.15 WIB si ibu petugas keluar dari ruangannya membawa dan membagikan Surat Biodata WNI yang saya gak tau buat apalagi itu. Yang ternyata, katanya, Surat Biodata WNI itu untuk memastikan kalau data kependudukan sudah terdata dan bisa ditarik online untuk keperluan daftar BPJS, urusan perbankan dan lain-lain. Biodata WNI ini baru bisa aktif dan dibuka datanya 2 x 24 jam. Ribet amat ya....udah kebanyakan Surat, kebanyakan pernak-pernik dokumen kependudukan...

Kembali ke urusan SKPWNI. Pas si ibu petugas tadi keluar dari ruangan dan sebelum mulai membagikan Biodata, saya coba maju lagi ke si ibu.
"Gimana bu, bisa diterima dulu gak berkas saya....yang penting udah masuk dulu bu....daripada besok2 saya harus pagi2 ke sini....iya kalo masih bisa kebagian nomer antrian, kalo gak kebagian juga kan sama aja dg sekarang." kata saya.
"Saya kan tadi pagi harus ke Kelurahan dulu terus ke Kecamatan baru bisa sampai disini siang, sementara jam 11.00 WIB tadi nomor antrian udah habis...kalau memang pembagian nomor antrian cuma dibatasi sampai jam 11.00 mending pasang pengumuman besar kalau memang nomor antrian terbatas dan yang akan dilayani yang punya nomor antrian saja...lha ini tadi aja masih ada yang bisa sodak-sodok tanpa nomer antrian koq" lanjut saya dengan sedikit kesal.

Mungkin karena kasihan (atau kesal) sama saya, akhirnya si ibu petugas itu mau terima berkas saya, sambil bilang "Ini kalo ngurus begini tidak mungkin sehari selesai pak...paling enggak 2 hari".
Eh...giliran berkas saya diterima terus dibelakang saya jadi ikut-ikutan minta diterima berkasnya. Ada 4 orang lagi yang senasib dengan saya....datang setelah jam 11.00 WIB dan tidak kebagian nomer antrian.
Saya lalu dibuatkan tanda terima berkas dan disuruh kembali lagi keesokan hari jam 11.00 WIB
tanda terima dokumen disdukcapil
Tanda Terima Berkas - dok. Pribadi
Setelah berjuang nyodor-nyodorin dokumen sampai dapat tanda terima berkas jam 14.30 WIB, saya putuskan untuk pulang. Itu juga karena di tanda terima ditulis SKPWNI saya selesai jam 11.00 WIB besok.

Percobaan Kedua....Anda Masih Belum Beruntung, Coba Lagi Besok.

Percobaan Ketiga

Besoknya saya sudah nongkrong di tukang kopi depan Kantor Disduk dari jam 09.30 WIB, dan ketemu lagi dengan mas Imam.
Mas Imam tanya, "Sudah ambil nomor antrian belum ?"
Saya jawab "Kemarin itu pas sampeyan pulang saya berusaha minta agar bisa berkas saya bisa diterima aja dulu, trus akhirnya si ibu petugas mau terima dan saya sudah dikasih tanda terima yang katanya SKPWNI saya bisa diambil jam 11.00 WIB."
"Oooo...tau gitu saya kemarin ikutan taruh berkas biar pasti selesai hari ini...abis puyeng kemarin ditelponin kantor terus...ini aja tadinya si boss gak mau kasih ijin hari ini" kata mas Imam.
"Berarti sekarang masukin aja dulu berkasnya mas...jadi kita cuma tinggal nunggu dipanggil aja...Jangan lupa KK Asli juga disertakan ke map berkas mas" kata saya menimpali.

Menunggu sampai jam 11.20 WIB, dan akhirnya mas Imam yang duluan dipanggil. "Lha koq bisa punya saya yang duluan jadi nih mas ? kan sampeyan yang duluan masukin berkas-berkasnya kemarin..." komentar mas Imam.

Tak lama saya di panggil si bapak petugas Disduk, tapi hanya mengkonfirmasi data karena ada perbedaan data anggota keluarga antara data di Surat Keterangan Pindah dari Kelurahan dengan data yang ada di database Disduk. Artinya saya lalu harus menunggu lagi SKPWNI saya karena masalah itu. Akhirnya setelah melewati terjeda jam istirahat Disduk, jam 13.30 WIB nama saya dipanggil, E-KTP asli saya diminta terus dilubangi lalu saya diberikan SKPWNI.
di disdukcapil
Pengumuman Penting Yang Tertempel di Monitor PC Disduk - dok. Pribadi
pasal 66 PP no. 98 tahun 2018
Dasar Aturannya Perpres No. 96 tahun 2018 - dok. Pribadi
SKPWNI saya selesai, maka saya kemudian langsung menuju Kecamatan tempat saya mau pindah domisili agar bisa terkejar selesai urusan dokumen kependudukan dalam 1 hari. Setelah menempuh Perjalanan yang panjang dan jam 14.45 WIB saya sampai di Kantor Kecamatan.

Membuat dan Mencetak Kartu Keluarga + E-KTP Domisili Baru

Untuk membuat Kartu Keluarga baru di tempat domisili baru di Kecamatan tujuan diperlukan dokumen-dokumen sbb :

  • Surat Keterangan Pindah WNI dari Disduk asal yang sudah di cap Disduk tujuan
  • Fotokopi Akte Pernikahan (Surat Kawin)
  • Fotokopi E-KTP Pasangan
  • Fotokopi Akta Kelahiran anak (kalau ada anak yang ingin dimasukkan ke dalam susunan KK)
Jam 14.45 WIB saya ke Loket di Kecamatan dan si mbak petugas memeriksa kelengkapan dokumen, lalu langsung menyuruh saya ke ruangan update data. Karena semua data sudah nge-link maka ketika petugas update data mengetikkan nomor SKPWNI saya yang baru saja selesai tadi, langsung keluar nama saya lengkap dengan data-data kependudukannya, tanpa perlu input mengetik lagi. Nah jadi kalau ada data yang belum diinput atau nyangkut di Disduk asal, pasti data-datanya tidak akan langsung muncul, seperti kasus yang terjadi dg Surat Pindah mas Imam di cerita saya diatas.
layar monitor data kependudukan di kecamatan
Layar Monitor Menghadap ke Pemohon di Kantor Kecamatan Kota - dok. Pribadi
Demikian juga dengan Data Status Perkawinan, begitu di input nomor Akte Perkawinan, data Nama Pasangan dan Tanggal Pernikahan juga akan langsung muncul, kalau data ini tidak langsung muncul berarti Data Status Pernikahan sampeyan tidak valid sehingga tidak tercatat di Data Catatan Sipil Negara. Nah, nantinya di KK sampeyan Status Pernikahan akan menjadi Kawin Tercatat, kalo di status KK sampeyan belum seperti itu berarti KK sampeyan sudah gak update lagi....buruan di update gih. Jadi sekarang semua Data Kependudukan bisa di check valid tidaknya Surat-surat kependudukan yang sampeyan miliki.

Cuma perlu waktu kurang lebih 30 menit, update data dan pembuatan KK baru sudah selesai. Tapi memang tidak bisa langsung di Print hari itu juga karena waktunya sudah kesorean. 'Kalau misalnya bapak tadi mengurus sebelum jam 11.00 WIB, bisa ditunggu sore ini bisa langsung di Print pak KK-nya' begitu kata pak Petugas Update Data di Kecamatan.

Untuk Print E-KTP, tinggal fotokopi KK (setelah di tandatangan Kepala Keluarga ya...) trus bisa langsung Print di Kantor Kecamatan. Sementara untuk penduduk pindahan seperti saya harus ke kios pelayanan publik di BTC (Bekasi Trade Center) lt. 2. Dan ini langsung Print E-KTP lho...tidak hanya SuKet (Surat Keterangan), yang artinya blanko E-KTP untuk Kota Bekasi dipastikan ada blanko-nya...tinggal Print Out.

Kesimpulannya...
Entah memang sistem birokrasi pengurusan data kependudukan di Disdukcapil Kabupaten yang kurang beres atau pengurusan administrasi kependudukan di Disdukcapil Kota yang sudah lebih baik, senyatanya urusan di Disdukcapil Kota dan di Kecamatan Kota Bekasi terbukti lebih cepat dan tidak pabaliut bertele-tele. Dari pengalaman ini, menurut saya masih banyak Aparatur Sipil Negara yang bekerja di bidang pelayanan publik cuma masih sekedar asal kerja....asal digaji...trus nantinya berharap dapat pensiun 1 Milyar.
Walaupun tidak semuanya ya....
Tapi ya begitulah....

Load disqus comments

0 Comments