Auf Wiedersehen Mr. Habibie !!



Saya tahu dan (harus) hafal nama Bapak BJ. Habibie saat menjadi Menristek 4 periode, sebelum kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden. Jaman dulu, waktu sekolah di jaman Orde Baru, saya mesti hafal nama-nama menteri dan satu-satunya menteri yang (setahu saya) tidak pernah tergantikan dari tahun 1978 sampai 1998 adalah Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie.

Dulu kalau ditanya ingin jadi seperti siapa ? Seperti anak-anak yang lain, saya akan segera menjawab ingin menjadi seperti pak Habibie. Kenapa ? Karena bisa bikin pesawat....bikin pesawat itu berat gaeess...jadi biar pak Habibie saja...mungkin begitu dulu pak Harto bilang.

Saat menjelang reformasi 1998, pas pak Habibie kemudian diangkat jadi Wakil Presiden, saya pikir selanjutnya memang pak Habibie yang dipersiapkan untuk menggantikan Pak Harto, kala itu. Dan benar dugaan saya, walaupun mungkin 'ndelalah' (kalau orang Jawa bilang), setelah pak Harto lengser kemudian pak Habibie-lah yang menggantikannya.

Banyak hal yang terjadi pasca lengsernya pak Harto, dari referendum lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, diselenggarakannya Pemilu yang Multi Partai pertama setelah era Orde Baru, dibukanya kran kebebasan press yang selama Orba di kekang dan banyak kejadian-kejadian penting yang tentunya merupakan langkah kebijakan pak Habibie sebagai Presiden RI waktu itu.

Pak Habibie, adalah inspirator yang telah menginspirasi anak-anak seperti saya untuk kemudian belajar tentang teknik. Inspirator bagi anak-anak yang sekolah di Sekolah Teknik Mesin (sebelum sekarang jadi,SMK - Sekolah Menengah Kejuruan) untuk bisa bermimpi jadi Insiyur yang bisa menciptakan sesuatu. Dulu saya pernah bermimpi untuk bisa bekerja di Nurtanio, dulu dikenal dengan nama IPTN, Industri Pesawat Terbang Nurtanio sebelum jadi Industri Pesawat Terbang Nusantara dan sekarang berubah jadi PT. Dirgantara Indonesia. Tapi ternyata untuk bisa masuk dan bekerja di BUMN jaman dulu itu susaaah...mesti banyak katebelece-nya sehingga ya jadilah saya seorang karyawan swasta yang biasa saja.

Untuk bisa masuk ke dalam dunia Industri, tidak sesimpel belajar dan lulus dari Sekolah Teknik terus bisa masuk jadi 'tukang' di pabrik. Inilah mungkin kemudian yang membuat pak Habibie memunculkan ide 'Link and Match' dalam bentuk pendidikan vokasi, jaman Menteri Pendidikan dijabat pak Wardiman Djojonegoro yang notabene adalah teman karib pak Habibie saat di Jerman. Secara simpel konsep 'Link and Match' memang dimaksudkan membangun jembatan antara lulusan sekolah dengan kebutuhan di industri. Karena ya itu....paradigma yang sudah mengakar dan terbentuk sejak dulu kala adalah kalo lulus STM (SMK - sekarang) ya bisa langsung dapat kerja...bisa bantu orang tua cari uang. Padahal ya dalam perkembangan dunia teknologi yang sedemikian cepat, senyatanya dunia pendidikan di Indonesia sangat kesulitan untuk mengejarnya. Sehingga hasilnya, angka pengangguran yang tertinggi ya lulusan SMK....terus sopo sing salah ??

Baca: Link and Match Itu Tidak Sekedar Bikin Rumah Siap Kerja atau Kartu Pra Kerja Terus Selesai Masalahnya

Sepertinya memang harus ada peninjauan ulang tentang Kurikulum 2013. Sudah 2 orang Menteri Pendidikan menjabat di Kabinet Kerja Jilid 1, tapi kedua Bapak Menteri ini masih tetap menampatkan dunia pendidikan kita di dunia yang abu-abu dan tidak jelas. Banyak PR yang harus bisa di selesaikan dunia pendidikan Indonesia untuk bisa mengejar ketertinggalan Indonesia menuju Revolusi Industri 4.0.

Lalu kapankah akan terlahir Habibie Habibie baru yang mampu membawa negeri ini tinggal landas membumbung tinggi ?
Pak Habibie sudah menyelesaikan tugasnya dan berpulang, pertanyaannya adalah mampukah kita yang ditinggali warisan-warisan keilmuan, ide dan mimpi menjadi negara industri untuk mewujudkannya ?

Auf Wiedersehen Professor....
Load disqus comments

0 Comments