Seandainya Planet Bekasi Jadi Bagian Galaxy Jasola (Jakarta Sono'an Lagi)


Ada wacana yg sedang berkembang dan wacana ini dicetuskan oleh Walikota Bekasi, Bang Pepen (Rahmat Effendi), yaitu penggabungan Bekasi dengan DKI Jakarta. Wacana ini dilontarkan lantaran ada wacana lain yang diapungkan yaitu pembentukan Propinsi Bogor Raya, yang akan mencaplok Planet Bekasi menjadi bagian daerah Bogor Raya. Menurut Bang Pepen, Bekasi lebih cocok bergabung dengan DKI Jakarta, karena secara administratif lebih berdekatan.

Nah....dari wacana itu, apa kurang lebihnya?

  • Secara Ekonomi

Bergabungnya Bekasi, tentu akan mempengaruhi besaran Upah Buruh Sektoral. Kalo kemudian Upah Buruh Bekasi yang dituntut harus ikut Upah Minimum Propinsi Jakarta.....emang buruh Bekasi mau upahnya turun dari 4,2jt jadi 3,9jt....jelas tidak akan mau kan.... Tapi seandainya Upah buruh Jakarta yang menyesuaikan trus jadi naik...gimana ?  Oke gak tuh.... 

Selanjutnya, warga di sekitar Bantar Gebang akan kehilangan dana kompensasi yg digelontorkan DKI Jakarta sebagai ganti bau wangi sampah yg semerbak. Sementara DKI Jakarta jadi akan memiliki lahan pembuangan sampah tanpa harus mengeluarkan biaya sewa dan ongkos pengelolaan sampah. 

Kalo soal harga kebutuhan pokok, mungkin bisa dibilang setara karena Jakarta punya Pasar Induk Kramat Jati, sementara Bekasi punya Pasar Induk Cibitung. Hanya mungkin Bekasi sedikit lebih miring karena secara jalur transportasi Bekasi agak lebih dekat ke Sentra penghasil beras dan kebutuhan pokok lain. 

  • Secara Geopolitik

Dalam hal politik, Bekasi sedikit lebih adem suhu perpolitikannya dibanding Jakarta yg sering ada event demo berjilid-jilid. Jadi seandainya nanti jadi ada penggabungan, bukan tidak mungkin Bekasi ikut terpengaruh dan terbawa Demam panggung politik juga. 

Saat ini, meskipun pemilihan pemimpin daerahnya (walikota dan bupati) dilakukan secara langsung, pilkada tersebut berjalan dg aman damai dan santun. Tidak seperti pilgub DKI yg dipenuhi hiruk pikuk perang medsos dan hoax. 

Kehidupan politik masyarakat Bekasi-pun bisa dibilang lebih damai tanpa dipenuhi laskar-laskar ormas pemegang kunci surga. Sehingga antara politik dan keyakinan masih terlihat batasannya, walau terkadang juga sedikit jadi absurd dan ngeblur. Seperti misalnya ketika walikota Bekasi menolak mencabut IMB pendirian sebuah gereja, sampai kemudian di geruduk laskar-laskar yang entah dari mana asalnya

  • Secara Sosial Budaya

Bidang sosial budaya, antara Bekasi dan Jakarta tidak ada perbedaan yg signifikan. Karena ada kesamaan akar budaya, yaitu budaya Betawi. Meskipun ya kalo Bekasi itu Betawi-nya Betawi pinggiran yang sudah bercampur dengan budaya Sunda dan Jawa pinggir barat. 

Nah....karena inkulturasi budaya itulah akhirnya ada kosakata 'et dah bocah yak'... 'lha bagen'... 'ilog ah'....yg tidak ada di kamus bahasa Betawi (atau mungkin ada sinonimnya dalam bahasa Betawi ya....kaga'ngarti dah).

Makanan khas yang terkenal di Bekasi adalah Sayur Gabus Pucung, ini bisa lebih menjelaskan kenapa warga Bekasi asli itu adalah orang Betawi. Ya karena Sayur Gabus Pucung itu sebetulnya adalah makanan khas Betawi, yang sudah mulai menghilang dari peradaban masyarakat Betawi Jakarta. 
gabus pucung bekasi
Sayur Gabus Pucung di Pondok Gabus Lukman

Seperti yang dikatakan Budayawan Betawi Ridwan Saidi, orang Betawi itu masih numpuk di Bekasi, mungkin sekitar 60% warga Bekasi adalah orang Betawi.

Dari segala kedekatan,  baik historis, budaya, pemahaman politik dan lain-lain....dan lain-lain....dan lain-lain tetap saja perlu permenungan panjang dan diskusi kesana kemari. Memang tak semudah jentikan jari Thanos penggabungan itu terjadi.... 

Kalo saya yang ditanya setuju atau tidak....jawaban politisnya ya dikembalikan lagi ke bapak-bapak pemimpin pusat dan daerah. Aturlah pak begimane baeknya menurut bapaklah.....saya mah ngikut aje....daripada ntar dibikin susah dan repot ngurus KTP dan lain-lainnye.... 

Load disqus comments

0 Comments