Safety First | Hal Yang Sangat Penting Tapi Seringkali Dipinggirkan

Dimana Bahayanya ?

Berbicara mengenai 'Safety', sebetulnya adalah hal yang fundamental dan mendasari setiap kita berperilaku dan bertindak dalam keseharian. Bekerja itu harus Safety, harus Selamat dulu. Buat apa gaji besar kalau tidak selamat....bukan begitu Betul ??
Kalau sampeyan setuju, silahkan lanjutkan membaca artikel ini...kalau tidak setuju ya sampai disini saja bacanya...karena suwer...bicara Safety itu mungkin adalah satu hal yang membosankan, makanya seringkali dipinggirkan.

Kalau kita berbicara tentang Safety, Keselamatan Kerja, secara keseluruhan tidak akan muat dalam 1 artikel ini saja. Tapi setidaknya artikel ini bisa menjadi Introduction...pembukaan untuk artikel-artikel Safety yang suatu saat nanti bisa saya share disini. Oh iya, apa yang akan saya share di sini atau di artikel saya selanjutnya, saya ambil dasarnya dari Standar Safety Toyota ya....jadi mungkin nanti akan bisa teraplikasi dengan baik jika diterapkan di industri manufaktur. Kunci keberhasilannya hanya satu kata KOMITMEN.

Ada 2 hal penting untuk memulai memahami apa itu Safety. Safety itu pada dasarnya mencakup 2 hal:

Mengidentifikasi (Mengenali) potensi bahaya yang ada di tempat kerja

Untuk mengidentifikasi potensi bahaya, dapat dilakukan dengan metode 4W1H (What, Where, When, Who dan How).
  • (What) Apa yang akan diidentifikasi ?
Disini kita akan melihat faktor-faktor yang merupakan penyebab masalah yang (akan dan mungkin sudah) terjadi. Penyebab timbulnya masalah Safety bisa berasal dari Man (Manusia), Metode (Metode), Machine (Mesin), Material (Bahan Baku) dan Enviroment (Lingkungan). 
  • (Where) Dimana lokasi yang di identifikasi ?
Tentukan lokasi (tempat kerja) yang akan di identifikasi. Semakin luas lokasi yang akan diidentifikasi tentunya akan lebih komplek dan membutuhkan waktu. Apalagi jika lokasi kerjanya berantakan dan tidak tertata rapi, hal ini tentunya akan memperbanyak hasil-hasil temuan ketidak'safety'annya. Lokasi juga akan menentukan tingkat (Rank) bahaya Safety yang mungkin terjadi. Hasil identifikasi nantinya bisa dibuatkan Safety Map Area sehingga akan memberikan safety awareness tentang kemungkinan bahaya kepada orang baru yang baru memasuki lokasi.
Contoh Safety Map

  • (When) Kapan identifikasi dilakukan ?
Identifikasi Bahaya Safety bisa dilakukan saat kondisi normal dan saat terjadi perubahan seperti misalnya saat re-Lay out, saat perancangan produk baru, pemasangan instalasi baru, pembongkaran mesin ataupu saat renovasi bangunan.
  • (Who) Siapa yang akan melakukan identifikasi ?
Identifikasi harus dilakukan oleh semua personil tidak mengikat apapun jabatannya. Dari mulai Operator Mesin sampai dengan Manager Lapangan harus sama-sama melakukan identifikasi jadi bisa saling melengkapi kemungkinan-kemungkinan timbulnya bahaya Safety. 
  • (How) Bagaimana cara melakukan identifikasi ?
Identifikasi bahaya dilakukan dengan cara observasi dan pengamatan lapangan. Dengan melihat, mendengar dan mencoba. Jadi proses identifikasi ini tidak bisa dilakukan hanya dari dalam ruangan dan hanya membayangkan....

Jadi pak boss sekalian, coba turunlah ke lapangan jika sampeyan ingin memperbaiki kondisi Safety di Plan sampeyan....lihat dan rasakan sendiri...sudah cukup merasa Safety-kah sampeyan di Lapangan tempat anak buah sampeyan kerja. 

Mengendalikan (Mengontrol) potensi bahaya yang telah teridentifikasi

Untuk mengendalikan potensi bahaya bisa dilakukan beberapa hal seperti berikut ini :
  • Eliminasi
Hal yang kemungkinan merupakan sumber bahaya, jika memang tidak krusial dan tidak menjadi hal yang penting dalam produksi, lebih baik di hilangkan. Setelah sumber bahaya ini dihilangkan (dibuang/digantikan) maka selanjutnya adalah mengubah metode kerja (SOP) yang memakai sumber bahaya tersebut agar bisa lebih efektif.
  • Subtitusi
Mengganti sumber daya, alat bantu dan atau material tambahan yang berbahaya dengan sumber daya yang memiliki resiko lebih kecil. Misalnya mengganti pemakaian HCl dengan material yang lebih ramah lingkungan dan kecil bahayanya.
  • Modifikasi
Melakukan isolasi sumber bahaya dengan menghilangkan kontak langsung manusia (operator) dengan sumber bahaya. Misalnya, untuk tempat-tempat yang menimbulkan suara bising, di pasang peredam suara.
Cara lainnya adalah membuatkan ventilasi sehingga memberikan sistem sirkulasi pada sumber bahaya. Misalnya untuk ruangan yang prosesnya mengakibatkan timbulnya banyak debu, di buatkan dust collecting sehingga debu terkumpul di suatu wadah.
  • Standardisasi
Menetapkan atau membuat aturan pengendalian dan standar kerja untuk panduan, monitoring dan checking pelaksanaan pekerjaan. Misalnya dibuatkan SOP (Standar Operational Procedure) yang baku dan jelas serta mengacu pada kaidah-kaidah Safety Rule.
  • APD (Alat Pelindung Diri)
Memberikan alat perlindungan yang wajib digunakan pekerja untuk mengurangi resiko bahaya saat terjadi kontak dengan sumber bahaya. Misalnya diberikan Sepatu Kerja Khusus, Kacamata, Helm dan Masker.
Contoh Standar APD

Sejauh mana Safety di tempat kerja sampeyan...?
Delay Produksi akibat kecelakaan kerja, bisa segera dikejar untuk digantikan dengan menambah waktu dan kuota Produksi....masalahnya Nilai Kehidupan atau kehilangan karena cidera akibat kecelakaan kerja...Tak akan pernah bisa tergantikan.

So be SAFE ya...

Load disqus comments

0 Comments