Link and Match Itu Tidak Sekedar Bikin Rumah Siap Kerja atau Kartu Pra Kerja Terus Selesai Masalahnya

Jangan sekedar memahami istilah 'Link and Match' adalah hanya bentuk penyelarasan Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja, karena sepintar apapun lulusan pendidikan (lulus cum laude) yang mungkin (diharapkan) akan mudah dapat kerja, belum tentu akan mampu menjawab tantangan di Dunia Kehidupan. Harusnya paradigma 'Link and Match' ditarik ke alam yang luas lagi yaitu Keberkaitan dan Kebersepadanan-nya hasil Dunia Pendidikan dengan Dunia Kehidupan.

Oke...kita akan me-Link and Match-kan lulusan SMK kita dengan dunia kerja yang membutuhkannya dengan memberikan pelatihan yang dibutuhkan oleh perusahaan yang nantinya membutuhkan, dengan memberikan pelajaran kewirausahaan dan modal (uang tunjangan) untuk mereka yang belum bisa langsung bekerja....begitu narasinya...dan di kedua kubu Paslon intinya SAMA. Yang beda cuma nama istilahnya.

Tentang Klaim Memberikan Pelatihan

Kedua Kubu mengklaim akan memberikan pelatihan, hanya bedanya yang satu akan memanfaatkan fasilitas dan jalur yang sudah ada (memaksimalkan Balai Latihan Kerja), sementara kubu satunya lagi baru akan membangun Rumah-Rumah Pelatihan...terus kalo Rumah Pelatihannya sudah berhasil dibangun (dg dana yang tidak sedikit), BLK yang sudah ada dibubarkan atau dibiarkan tidak berfungsi ?
Apakah sudah dipikirkan langkah untuk memaksimalkan jalur pendidikan vokasi-nya dengan membuat kurikulum yang lebih bisa membuat hasil lulusannya bisa lebih struggle dalam pertarungannya di Dunia Kerja dan di Dunia Kehidupan yang sesungguhnya ? Sepertinya koq belum ada yang terpikirkan untuk merubah kurikulum ya....


Ada sebuah penelitian Profesor dari Amerika yang menyebutkan Indonesia itu ketinggalan banget di bidang Matematika, Sains dan Reading (Membaca). 
Dalam Bidang Matematika, anak-anak Indonesia lebih banyak diajarkan untuk menghafalkan rumus, bukan diajarkan mencari cara untuk memecahkan masalah hitungan matematika. Akibatnya adalah ketika cara pemecahan soal harus dikerjakan dengan sedikit membalik rumus atau harus menambahkan beberapa komponen bantu, disitulah mereka akan merasa bingung...karena bukan seperti itu yang diajarkan oleh gurunya. Parahnya lagi, ketika ada yang bisa mengerjakan soal tapi dengan cara sedikit berbeda dengan cara gurunya, akan otomatis di coret dan dibilang SALAH oleh sang guru.
Untuk Bidang Sains, anak-anak Indonesia selalu diajarkan untuk menerima teori-teori Sains tanpa diberi kesempatan secara kritis mempertanyakan...karena kalau gurunya ditanya seringkali malah bingung menjelaskannya...seperti misalnya kalo muridnya bertanya kenapa cebong itu bisa hidup di air dan didarat...atau kenapa kampret itu keluarnya malam hari dan tidurnya terbalik....coba menurut sampeyan apa jawabannya ?
Bidang Reading (Membaca), anak-anak Indonesia, bahkan orang-orang (seumuran saya) yang sudah lulus sekolah lama, seringkali tidak mampu menginterpretasikan apa yang dibacanya....tidak bisa menangkap maksud dalam sebuah tulisan yang tertulis...indikatornya, yang paling mudah adalah seberapa banyak komentar yang nyambung dalam sebuah status di medsos...coba saja sampeyan perhatikan, statusnya maksudnya kemana...yang komentarin arahnya kemana...yang komentarin komentatornya kemana. Tidak ada persesuaian sehingga tak jarang di medsos terjadi perang komentar, debat kusir dan akhirnya caci maki menjelek-jelekan antara yang satu dengan yang lain. Masih belum percaya kalo bahkan sampeyan sendiri juga lemah di Reading ? Coba saya tanya, menurut sampeyan artikel ini sedang membahas apa dan ke arah mana ?

Baca: Magang

Kembali ke soal gagasan memberikan pelatihan, pertanyaan saya adalah Pelatihan seperti apa yang panjenengan-panjenengan janjikan ?
Dari Kubu Kartu Pra Kerja (katanya) yang fungsinya, untuk mengidentifikasi para angkatan kerja muda yg baru lulus sehingga bisa difasilitasi Pelatihan di BLK...koq seperti Konsep Kartu Kuning dari Depnaker jaman Orba yang tidak jalan ya pak...yang akhirnya cuma jadi salah satu syarat lampiran berkas lamaran kerja, sementara perjuangan untuk dapat Kartu Kuning itu dulu mesti antri seharian di Depnaker. Pelatihan di lakukan di BLK-BLK yang di kelola Disnaker....soal penyaluran setelah pelatihan...sampai saat ini Disnaker koq seperti cuma nempel Pengumuman Lowongan trus kemudian para Pencaker yang kemudian struggle usaha sendiri dari kirim lamaran (via Pos) sampai menjalani test-test dari perusahaan.
Nah, bagaimana dengan Rumah Siap Kerja ? Kalo di Rumah Siap Kerja (katanya)  ada Pelatihan Barista, ada co-working space, ada arena olahraga kecil...lha ini pengangguran yang datang mau dilatih jadi pekerja atau dilatih jadi apa atau diajak fitness ? Terus setelah 'lulus' dari Rumah Siap Kerja bisa langsung disalurkan jadi karyawan dan digaji gitu atau gimana? Terus dimana konsep Link and Match-nya ? Katanya sudah ada perusahaan yang bergabung dan siap menyalurkan para 'lulusan' Rumah Siap Kerja....pertanyaannya, perusahaan ini merupakan perusahaan penyalur (semacam yayasan gitu...) atau perusahaan yang memang melakukan produksi...seperti misalnya Perusahaan Group Astra, Epson, Samsung, LG, Matel dan lain-lain.
Sepertinya koq konsepnya belum dipikirkan dg matang mau diarahkan kemana ya Pak Cawapres....

Dari sini saja kesimpulan saya kedua Kubu sepertinya cuma mau ngejar perolehan suara...cuma hanya karena Kubu Kartu Pra Kerja adalah kubu petahana, sehingga apa yang ditawarkan tersebut terdengar lebih realistis. Walaupun ya itu....harus nambah koleksi Kartu di dompet, toh biaya pengadaan Kartu gak akan sebesar biaya membangun Rumah.

Baca: Kartu Pra Kerja: Sekedar Cita-Cita Saat Kampanye atau Bisa Direalisasikan ?

Setelah Dapat Pelatihan Lalu Bagaimana ?

Bicara soal Pelatihan, Bimbingan Karir atau apalah istilahnya...koq terdengar klise ya. Seperti disuruh mendengar Motivator yang berapi-api membangkitkan motivasi selama acara berlangsung tapi setelah Audience keluar dari ruangan, baru mau nunggu dijemput Ojol aja udah nglokro lagi semangatnya.
Misalnya sampeyan dapat pelatihan jadi Barista, setelah selesai dari pelatihan sampeyan mau praktek ilmu Barista hasil pelatihannya dimana....di warung Indomienya mbak Lis yang cuma menyediakan kopi sachet instan tinggal seduh ? Atau kemudian diberikan kemudahan untuk pengadaan Roaster, Grinder dan Dripper sehingga sampeyan bisa langsung praktek buka Kopling (Kopi Keliling) Sepeda....yang artinya akan kerja sendiri dan (jualan) cari duit sendiri...kira-kira penggagas ide Rumah Siap Kerja baca artikel saya gak ya...
Sementara kalo yang dilakukan adalah memaksimalkan pelatihan di BLK, mungkin ke depannya dari semua BLK bisa difasilitasi dan disalurkan melalui program magang ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja...atau malah bisa disalurkan kerja magang di Luar Negeri seperti yg sudah berjalan di BLK Cevest Bekasi. Yang artinya, setelah 'lulus' pelatihan ya bisa langsung kerja....walaupun statusnya Magang.
Diperlukan adanya Rencana dan langkah lebih konkrit lagi untuk kedua program yang ditawarkan bisa berjalan...agar janji Link and Match antara Hasil Pendidikan (terutama Pendidikan Vokasi...SMK dsb-nya) dengan Lapangan Kerja yang ada bisa terakomodir.

Masalahnya lagi, setiap tahun SMK (sekolah) meluluskan murid-muridnya tapi berapa banyak Lapangan Kerja yang butuh rekrutmen tenaga kerja setiap tahunnya. Dari fakta lapangan, Penyedia Lapangan Kerja (Pabrik) seringkali memang secara reguler membuka lowongan kerja dan melakukan rekrutmen. Tetapi itu adalah program Re-placement (penggantian) karyawan kontrak yang sudah selesai masa kontraknya, yang rata-rata dikontrak hanya selama 2 tahun, paling lama, sesuai UU Tenaga Kerja no. 13 tahun 2003. Setelah 2 tahun kerja, banyak Tenaga Kerja Kontrak yang 'selesai' dan tidak lanjut jadi Karyawan Tetap. Parahnya lagi, banyak perusahaan yang mensyaratkan umur maksimal untuk karyawan baru itu maksimal di umur 25 tahun. Yang artinya setelah lulus SMK (rata-rata usia 19 tahun) hanya punya waktu untuk melamar jadi Karyawan Kontrak hanya 5 - 6 tahun, itupun kalo mereka beruntung, setelah lepas masa kontrak bisa langsung pindah jadi Karyawan Kontrak di perusahaan lain. Kalo tidak beruntung ya akhirnya umur 22 tahun sudah resmi jadi pengangguran. Lalu bagaimana nasibnya...apa mereka semua punya bekal memadai untuk survive di Dunia Kehidupan ?

Link and Match dan Test Penerimaan Karyawan

Nah...sekarang saya mau cerita tentang Prosedur Penerimaan Karyawan yang diterapkan hampir di seluruh perusahaan swasta. Prosedurnya secara garis besarnya akan seperti ini :
  • Proses Administrasi Lamaran Kerja
Pencari Kerja mengirimkan Lamaran Kerja yang di dalamnya (biasanya) ada berkas-berkas Identitas (KTP), Riwayat Hidup, Ijasah, Setifikat-Sertifikat. Pada tahapan ini, seleksi biasanya hanya berdasarkan Umur, Pendidikan Terakhir dan Domisili (domisili). Kalo dari berkas lamaran lolos ya biasanya akan di panggil untuk Psikotest.

Saat ini proses melamar kerja sudah lebih mudah karena bisa dilakukan secara online. Sampeyan bisa mencoba peruntungan dengan apply lamaran melalui www.karir.com atau lewat https://id.jobsdb.com/id atau situs-situs penyedia lowongan kerja lainnya. Berkas aplikasi lamaran dan resume bisa dibuat langsung, tinggal sampeyan tambahkan upload ijasah dan file pendukung laiinya. Silahkan dicoba....search...apply...dan semoga beruntung...
  • Proses Test Tertulis dan Psikotest
Pada tahapan ini perusahaan seringkali menggunakan Jasa pihak ke-3 (konsultan HRD) untuk melakukan test tertulis. Soal tertulisnya biasanya kebanyakan Pengetahuan Umum dan beberapa ada soal-soal pengetahuan yang spesifik dengan penempatannya. Selain soal-soal pengetahuan umum, biasanya ada soal Psikotest untuk melihat kemampuan analisa, IQ dan hal-hal yang menyangkut keadaan psikologis seseorang.
Saya tidak begitu paham tentang tujuan test psikologis ini, karena bisa jadi pas sampeyan di test kondisi psikologis sampeyan sedang terganggu atau tidak siap secara mental. Tapi ya begitulah....Psikotest ini sampai saat ini masih dipercaya efektif untuk screening dan memilih kandidat dari ribuan pelamar lainnya.
  • Proses Interview dengan HRD dan User-nya
Jika sampeyan lolos test Psikotest, tahap berikutnya adalah tahap interview dan tatap muka dengan bagian Personalia atau HRD. Pertanyaan yang diajukan kurang lebih adalah pertanyaan untuk mengenal diri sampeyan lebih lanjut. Tentang pribadi, keluarga, niat bekerja sampai dengan apa yang sampeyan harapkan dari perusahaan. Berapa gaji yang sampeyan harapkan, tunjangan, fasilitas, jam kerja dan hal-hal normatif administratif yang nantinya akan sampeyan hadapi jika diterima.
Proses interview ini bisa jadi nantinya akan mempertemukan sampeyan dengan Departemen dimana sampeyan akan ditempatkan. Perwakilan Departemen User akan menggali lebih dalam kemampuan sampeyan (secara teori) dan mungkin sedikit test praktek, misalnya test membaca gambar teknik untuk lulusan SMK Mesin.
  • Proses Test Kesehatan (tidak semua perusahaan melakukan)
Untuk test kesehatan, biasanya pelamar akan diarahkan untuk melakukan serangkaian test kesehatan di klinik-klinik yang sudah bekerja sama dengan perusahaan. Jika sampeyan sehat dan tidak memiliki kelaian, yakinlah jika sampeyan sampai di tahapan ini, 80% sampeyan bisa dipastikan akan diterima kerja.

Dari semua tahapan test melamar kerja, menurut pendapat saya....maksud 'Link and Match' yang mau dibuat ada disisi mana, saya koq gak begitu menangkap maksud dan tujuan yg jelas dari istilah 'Link and Match' Rumah Siap Kerja. Karena 75% dari pelajaran yang ada di kurikulum pendidikan vokasi kita, seringkali tidak bisa teraplikasi di dunia kerja. Apa yang diajarkan di sekolah-sekolah lebih kepada teks book yang harus dihafalkan dan pas lulusan masuk ke dunia kerja, misalnya produksi otomotif, tugas kerjanya selama 8 jam sehari - 5 hari seminggu cuma pasang baut atau hanya pasang benda kerja terus pencet tombol mesin, loading - unloading barang...udah...begitu saja terus sampai masa kontrak berakhir.

Itu fakta sesungguhnya gap yang ada antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Terus yang mau panjenengan perbaiki itu dari sisi mananya ? Yang mau di Link and Match-kan apanya ?
Kalo cuma janji memberikan pelatihan, itu sama saja cuma retorika yang terus menerus diulang dan dijanjikan setiap ada Pemilu. Sementara lulusan sekolah tiap tahun bertambah yang artinya juga saingan pelamar akan terus bertambah, belum lagi ditambah para pekerja kontrak yang 'diselesaikan' masa kontraknya.

Perbaiki dulu kurikulum pendidikan yang sudah berjalan, karena ganti Presiden dan ganti menteri belum tentu bisa mengurai keruwetan soal pendidikan dan ketenagakerjaan dari dulu sampai sekarang. Rubah kurikulum yang bisa membuat lulusan yang mampu mencari solusi pemecahan masalah....bukan sebatas menghafal langkah pemecahan masalah yang sudah ada, dan ketika langkahnya bermasalah jadi tambah bingung memecahkannya. Buat lulusan sekolah kita mampu berinovasi bukan hanya berpegang pada teori-teori teknologi jadul yang sudah ketinggalan perkembangan jaman.

Jadi mau pilih Kartu Pra Kerja atau Rumah Siap Kerja....menurut saya koq jadi gak ada pembeda, kalo rencana langkah perbaikan kedepannya masih belum terpikirkan dan terkatakan.

Lalu What's Next....?
Load disqus comments

0 Comments