6 Langkah Dalam Implementasi Teaching Factory

Dari beberapa artikel sebelumnya saya sudah singgung sedikit tentang Teaching Factory. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Teaching Factory (TEFA/TF) ? Yuk kita berbincang sedikit tentang TEFA disini.

Teaching Factory, atau disingkat TEFA (TF) adalah konsep metode pembelajaran di SMK yang berorientasi bisnis, berbasis pada produksi barang/jasa dan mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri. TF bisa juga disebut sebagai pengembangan dari Unit Produksi dan bidang usaha sekolah untuk menambah penghasilan sekolah dalam upaya pemeliharaan peralatan dan peningkatan SDM. Dalam hal peningkatan SDM, siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman kerja yang benar-benar nyata.

 Sumber: website kemdikbud.go.id
Sumber: website Kemendikbud


Dadang Hidayat (2011) berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, mengembangkan langkah-langkah pembelajaran Teaching Factory sebagai berikut:
1. Menerima order
Pada langkah belajar ini peserta didik berperan sebagai penerima order dan berkomunikasi dengan pemberi order berkaitan dengan pesanan/layanan jasa yang diinginkan. Terjadi komunikasi efektif dan santun serta mencatat keinginan/keluhan pemberi order seperti contoh: pada gerai perbaikan Smart Phone atau reservasi kamar hotel.
2. Menganalisis order
Peserta didik berperan sebagai teknisi untuk melakukan analisis terhadap pesanan pemberi order baik berkaitan dengan benda produk/layanan jasa sehubungan dengan gambar detail, spesifikasi, bahan, waktu pengerjaan dan harga di bawah supervisi guru yang berperan sebagai supervisor.
3. Menyatakan Kesiapan mengerjakan order
Peserta didik menyatakan kesiapan untuk melakukan pekerjaan berdasarkan hasil analisis dan kompetensi yang dimilikinya sehingga menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab.
4. Mengerjakan order
Melaksanakan pekerjaan sesuai tuntutan spesifikasi kerja yang sudah dihasilkan dari proses analisis order. Siswa sebagai pekerja harus menaati prosedur kerja yang sudah ditentukan. Dia harus menaati keselamatan kerja dan langkah kerja dengan sungguh-sunguh untuk menghasilkan benda kerja yang sesuai spesifikasi yang ditentukan pemesan
5. Mengevaluasi produk
Melakukan penilaian terhadap benda kerja/layanan jasa dengan cara membandingkan parameter benda kerja/layanan jasa yang dihasilkan dengan data parameter pada spesifikasi order pesanan atau spesifikasi pada service manual.
6. Menyerahkan order
Peserta didik menyerahkan order baik benda kerja/layanan jasa setelah yakin semua persyratan spesifikasi order telah terpenuhi, sehingga terjadi komunikasi produktif dengan pelanggan.

Dalam pelaksanaannya sendiri, Model Pembelajaran TEFA ini kemudian menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang akan memberi order dan akan menilai kualitas hasil produksi dari Plan TEFA. Apakah hasilnya sesuai standar kualitas yang dibutuhkan atau tidak. Dari situ kemudian bisa di evaluasi apakah siswa yang terlibat dalam TEFA nantinya layak dipekerjakan atau tidak.

Nah...setelah sedikit penjelasan diatas apakah sampeyan sudah sedikit paham beberapa upaya pemerintah untuk mempersiapkan lulusan sekolah negeri ini bisa menjadi tenaga kerja yang siap kerja dalam mengurangi angka pengangguran. Tidak mudah memang, dan kembali lagi dibutuhkan kerja sama dari semua pihak yang berwenang dan berkepentingan agar Generasi Muda bangsa ini tidak jadi Generasi instan yang cuma tau enaknya saja.

Kalo cuma komentar doang...sampeyan akan sama saja dengan komentator sepak bola yang tidak bisa bermain bola, tapi teriak paling keras ketika striker gagal membuat gol.

Paham ora son....
Kalo belum paham juga, monggo disimak lebih lanjut artikel tentang TEFA disini atau disini

Salam Vokasi !!
Load disqus comments

0 Comments