Kebijakan Kantong Plastik Tidak Gratis Bisakah Merubah Mindset serta Perillaku 'Nyampah' ?

Tahukah sampeyan kalo sekarang beberapa Ritel sudah menerapkan (lagi) Kebijakan Kantong Plastik yang tidak lagi Gratis, alias Berbayar ? Belum tau ya....karena gak pernah cek struk belanjaan setelah bayar di Kasir ya. Sini saya kasih tau....

KP (Kantong Plastik) Branding
Merujuk pada Surat Edaran Dirjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikeluarkan pada 2016 bernomor SE/8/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang Pengurangan Sampah Plasik Melalui Penerapan Kantong Belanja Plastik Sekali Pakai Tidak Gratis, maka per 01 Maret 2019 Ritel yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menerapkan (lagi) Kantong Plastik Berbayar atau Kantong Plastik Tidak Gratis (KPTG).

Efektifkah mengurangi tumpukan sampah plastik di pinggir-pinggir jalan atau yang mengapung di selokan atau di bantaran kali ? Sepertinya tidak cukup memberikan pengaruh yang signifikan.
Yang ada biasanya malah mbak-mbak atau mas-mas Kasir Alfamart diomelin pelanggannya yang mencak-mencak keberatan hanya karena duit 200 perak.
Yang sudah-sudah sih begitu. Pertanyaan sok kritisnya (biasanya) terus itu uang 200 perak-nya disumbangin kemana ? Jangan-jangan buat kampanye Paslon tertentu...atau buat nyumbang anu....

Masalah sampah itu sebenarnya masalah Mindset. Sudah dari bayi Otak orang kita itu seperti disetting bahwa kalo pedagang ya harusnya menyiapkan plastik agar jajanan yang kita beli bisa ditenteng ke sana sini sambil main petak umpet. Kalo gak dikasih kantong plastik....ya mintalah....kalo gak ada...ya omelin aja penjualnya....

Lalu mesti bagaimana dong ? Ada satu hal yang dilupakan yaitu mengedukasi pelanggan untuk mau 'membeli' kantong belanja'an Reuseable yang ramah lingkungan. Padahal di setiap kasir saya lihat ada lho digantungin itu kantong belanjaan yang warna-warni...koq ya gak ditawarin...si mbak kasir cuma menyampaikan 'Pakai kantong gak mas...mulai sekarang kantongnya berbayar ya'.

Dan kalo merubah Mindset itu cuma dihargai Rp 200,- koq sepertinya gimana ya....Seperti merubah mindset menempatkan bekas makan ke tempatnya atau memasukkan botol/gelas plastik bekas minum ke tong sampah yang tersedia atau sekedar menyediakan tong sampah kecil didalam mobil agar tidak war wer main lempar plastik bungkus tahu bulat yang digoreng dadakan dari jendela saat mobil melaju.

Katanya kebersihan itu adalah sebagian dari iman, maka semestinya para guru dan pemuka agama bisa lebih proaktif 'ngompori' pengikutnya agar bisa menjadikan lengkap keimanannya, dengan menerapkan pola hidup tertib buang sampah. Bukan malah 'nyampah' menebar cerita hoax tentang legalisasi perzinahan yang ternyata bohong.
Kita bisa bilang dan bikin meme bahwa Valentine bukan budaya kita...karena budaya kita adalah buang sampah sembarangan...gitu ??
Atau harus ada koban lagi, seekor putri duyung yg mati terdampar karena klolotan menelan sampah plastik dilautan, baru kita tersadar (lagi) dan ribut berusaha menaikan harga kantong plastik di pasar tradisional agar orang-orang gak mau pakai kantong plastik belanja ?

Ahsudahlah....sebentar....saya ganti dulu gelas plastik kopi saya dg cangkir blirik sambil nglipet kantong plastik bekas belanja tadi....


Load disqus comments

0 Comments