Ddu Du Ddu Du Ddu Du....Aye Aye........BlekPink (baca: Blackpink)

Seharian ini di Linimasa (Timeline) FB saya bersliweran banyak posting dan komentar tentang petisi untuk boikot sebuah iklan e-commerce. Ada yang pro, ada yang kontra. Nah, sekarang kita sedikit ngobrol-ngobrol sambil ngopi mengenai hal ini yuk.

Blackpink


Sebelum akhirnya menjadi brand ambassador untuk e-commerce Shopee, Girlband Korea ini (meski tidak semua anggotamya asli Korea) dikenal lewat single-nya 'Ddududduddudu'. Single inilah yang kemudian dicuplik menjadi theme song iklan Shopee edisi Harbolnas (Hari Belanja Iklan Nasional). Tidak hanya lagunya saja yang dicuplik, konsep videoklip-nya juga. Lalu kenapa jadi petisi yang heboh (setelah dicekal KPI), mungkin karena video klip tersebut jarang (atau malah tidak pernah) tayang di TV lokal. Semenjak MTV tamat kan sudah tidak pernah ada lagi tayangan video klip lagu yang bersliweran di TV lokal Indonesia.

Menurut kaum yang kontra dengan iklan tersebut katanya iklan ini bisa merusak anak-anak yang nonton karena alasan pakaian yang digunakan terlalu seksi...terlalu minim dan menggumbar gerakan erotis saat menari. Alasan ini menurut saya...koq malah jadi mempertontonkan ketidakmampuan orang tua (terutama emak-emak) yang menandatangi petisi ini untuk bisa memberikan pemahaman yang sehat pada anak-anaknya. Seharusnya si emak-emak bisa menjelaskan dengan penjelasan yang logis (kalo menurut dia tayangan tersebut tidak bermoral), bukan terus menggalang 8 juta emak-emak militan menandatangani petisi memboikot iklan tersebut.

Jika alasannya adalah gerakan tari yang terlalu erotis, lalu apa kabarnya para penyanyi dangdut orgen tunggal yang tampil sebagai hiburan di resepsi pernikahan kampung. Koq mereka gak ada memboikot. Bahkan kadang orang tua malah mengajarkan (mempertontonkan) tradisi nyawer di depan anak-anak yang mereka ajak menghadiri resepsi.
Ketakutan bahwa anak perempuannya akan meniru gaya dan style berpakaian para personil Blackpink. Hellooo....emak sehat ? Anak-anak itu memang peniru terbaik, tapi siapa yang akan ditiru...ya emak-emaknya atau orang-orang sekitarnya yang hampir 24 jam (dipotong waktu tidur) bersama dengan mereka. Sampeyan sendiri bagaimana gaya pakaiannya selama dirumah...berdaster panjang sepanjang hari atau seperti mbah-mbah jaman dulu yang sering cuma berkemben dg kain jarit mondar mandir kesana-kemari atau malah cuma ote-ote bercelana pendek dan kaus singlet. Jelaskan jadinya, sampeyan tidak akan bisa memberikan penjelasan yang masuk akal untuk anak-anak sampeyan, lalu cari masa pendukung dengan menyalahkan pihak lain karena ketidakmampuan sampeyan.

Dunia ini tidak hanya terdiri dari Hitam dan Putih. Ada area abu-abu yang selayaknya juga ditunjukkan kepada anak-anak. Seperti misalnya ketika sampeyan mengajarkan anak-anak ke pasar, demikian juga dunia yang ditampilkan melalui media televisi atau internet. Media televisi dan internet tak ubahnya seperti pasar, dimana disana ada yang menawarkan barang yang baik, ada yang menawarkan barang buruk, ada yang jahat, ada yang tidak jujur dan sebagainya. Nah, tugas sampeyan sebagai orang tua adalah mengajarkan kepada anak untuk bisa memilah dan memilih yang baik diantara yang buruk. Bukan lalu karena merasa tidak mampu terus demo agar pengelola pasar harus melarang sesuatu yang buruk tidak boleh digelar, menurut penilaian sampeyan secara sepihak. Jika anak tidak pernah diberitahu tentang apa yang buruk, lalu apa sampeyan nanti yakin pas mereka dewasa mereka bisa membedakan yang buruk diantara yang baik ?
Ingat ibu-ibu...kids jaman now itu sudah tidak mempan kalau sampeyan cuma bilang 'kamu anak kecil tau apa...pokoknya itu tidak baik' atau ditakut-takuti 'jangan seperti itu...dosa tau'

Atau jangan-jangan sampeyan ikut-ikut memboikot hanya karena keberatan badan sehingga tidak bisa bergoyang Ddu du Ddu du...Ayee ayee
Dan cuma bisa nyanyi Gubrak gubrak gubrak jeng jeng jeng...anda jangan julid
Load disqus comments

0 Comments